Minggu, 06 September 2015

Antara Kangen, Bank Mandiri dan BNI.

Diposting oleh Unknown di 03.37 4 komentar

Senin, 7 September 2015.

Pagi ini iseng telfon pak Kukuh. Beliau adalah tim leaderku dulu di Bank Mandiri. Seorang paruh baya dengan badan yang sangat sehat dan masih cukup ganteng untuk ukuran bapak-bapak. Pak Kukuh baik sekali. Tiap kali beliau membawa makanan, orang pertama kali yang ditawarin adalah aku. Apapun ulah isengku minta makanan, seketika itu langsung beliau kabulkan. Mulai dari indomie goreng, kue nastar, rujak manis, sampai blackforest dari breadtalk benar-benar aku dapatkan dari beliau. Seneng? Jelas. Pak Kukuh sudah kuanggap sebagai bapak sendiri. Puncaknya tadi pagi aku amat kangen dengan beliau.

Pak kukuh masih sama seperti yang aku kenal. Suka bercerita panjang lebar hingga harus di-cut berbicara dengan beliau. Kalau ga gitu, bisa-bisa telfonku pagi ini bisa mengganggu trainingku. Bicara soal pak Kukuh, jadi inget dengan kerjaanku dulu sebagai seorang Desk Collection di Bank Mandiri. Sama sekali ga pernah kebayang bisa kerja jadi deskol.

Dulu saat kuliah, aku pernah bilang bahwa ingin sekali bekerja di Bank Mandiri. Hingga aku berdoa kepada Allah bahwa aku ingin bekerja di sana tanpa menyebutkan bagian apa yang aku inginkan. Dan wallaaa.. Allah mengabulkan apa yang aku inginkan. Kerja di Bank Mandiri. Namun dengan bagian yang tak terpikirkan olehku, yaitu sebagai seorang deskol.

Hari kamis tanggal 12 Maret 2015, pertama kali aku masuk kerja. Waktu itu ada seorang yang sudah ku kenal dari awal masa interview. Namanya Sari. Sari juga teman seperjuanganku mengikuti rekrutmen di BNI. Namun dia berhenti dalam psikotes. Pertama kali masuk kerja, sama sekali aku ga paham dengan apa yang aku kerjakan. Aku gabung dengan tim Loan Collection. 2 minggu pertama aku hanya tandom dengan mbak Maria. Dia adalah guru terbaikku di Bank Mandiri. Dia yang mengajariku cara bertelepon yang baik, mempelajari sistem finnone dan BDS. Memahami apa itu penagihan dan apapun yang berbau kerjaan, dia adalah yang terbaik dan tersabar.

2 minggu tandom, akhirnya aku mendapat meja kerja beserta perlengkapannya. Mulai dari PC, headset, dan User Id sistem sendiri. Seneng banget akhirnya bisa bener-bener kerja. Bisa naruh barang sesuka hati. Seperti tas, sandal jepit, charger hp, dan yang paling penting adalah bisa kerja sendiri. Bertelepon ria dengan para debitur.

Deskol itu kerjanya ngapain sih? Awalnya aku awam sekali. Setelah tandom selama 2 minggu baru aku "ngeh" dengan kerjaanku. Telepon debitur untuk menagih hutangnya. Kalau lagi santai bisa sambil nyanyi. Kalau lagi laper bisa sambil ngemil. Dan kalau lagi bosen bisa sambil becanda bareng temen kanan-kiri. Seru banget! Apalagi waktu akhir bulan saat dikejar target. Udahlah paling males kalo inget akhir bulan.

Suka duka jadi seorang deskol itu banyaaakkk banget. Mulai dari kenal debitur yang amat sangat santai namun gemesin karena sudah sering promise to pay tapi broken terus. Kaya masih aja dengan santainya bilang "iya-iya mbak cantik, pasti dibayar kok". Sampai kena semprot dari seorang debitur yang emosinya dapet banget. Belom sempet nembak nagih, eh uda dimarahin ajah. Nangis deh di kamar mandi. Haha. Inget-inget jadi ketawa sendiri. Sebegitu melankolisnya aku. Yah itu pelajaran, kalau saat kerja jangan pernah kebawa perasaan. Kita harus kebal dengan apapun yang debitur katakan kepada kita. Tapi lucu ya, mereka yang punya hutang. Mereka juga yang marah-marah.

Bicara soal atasan. Ada pak Erwin, Head Manager lulusan ITS dengan fisik yang tinggi nan gagah serta otak yang cerdik membuat aku terkesima padanya. Ditambah wajahnya yang ganteng dengan jambul yang menyembul. Seksi banget. Pak Aries, Manager Product yang sering kebingungan sendiri. Mondar-mandir ga jelas. Manggil orang tapi lupa mau ngomong apa. Bisa gitu yaa jadi manager dengan kelakuan yang dikain temen-temen jadi "argo - alias aries gondes". Pak Aldo, eh beliau gamau dibilang pak. Tapi bang Aldo. Supervisor muda kelahiran 1988 yang ganteng khas orang manado. Setiap hari godain aku dengan bilang "senyumnya mana senyumnya? Heeee ga tahan aku liatnya" jadi ge.er tiap digituin bang Aldo (haha). Pak kukuh, tim leader yang buaik sama aku. Sering cerita tentang anaknya yang bernama Recko yang (ceritanya) mau dijodohin sama aku. Mau banget punya mertua kaya pak Kukuh, lucu sih.

Temen-temen deskol-pun ga kalah seru. Ada si Sari yang awalnya temen baik, sekarang sudah jadi jauh alias gamau kenal lagi. Mbak Nyimas dengan segala kerempongan khas nenek-nenek hingga dipanggil "mbah". Mbak maria guru terbaikku. Mas Ical partner curhat dan penasehat gaulku. Mas moko temen bullyku. Mbak nopi yang udah kuanggap sebagai mbakku sendiri. Mbak iha dan mbak nesa yang sering bully aku tapi ternyata sayang juga sama aku. Mas dana, mas rio dan mas andik yang selalu jadi temen sholat jamaah. Dan yang spesial adalah mas Aye, yang sekarang jadi pacarku. I love you all.

Tepat di hari kamis tanggal 20 Agustus, hari terakhirku sebagai deskol. Ga nyangka bisa dikasi farewell party sama mereka. Seneng campur sedih pas mau pisahan. Seneng karena akhirnya bisa lulus dari deskol dan (akan) jadi teller di BNI. Sedih karena harus melepas orang-orang yang sudah kuanggap sebagai keluarga keduaku. Bener banget kalo kata mereka aku bakalan kangen. You guys, absolutly make me miss them so much. Kangen kangen kangen.

5 bulan kerja disana bener-bener banyak kenangan. Tapi kamu tau ada sebuah pepatah yang menjelaskan bahwa:

"If you don't like where you are. Move on. You are not a tree"

Pepatah itu adalah peganganku, kenapa aku mau resign dan memutuskan untuk menerima kerja sebagai teller di BNI. Pekerjaan sebagai deskol sama sekali tidak bisa dibanggakan kepada orang-orang. Kita kerja bukan hanya tentang uang yang didapat. Tapi juga soal pride. Kita bisa bangga saat berkata tempat kerja dan bagian mana kita ditugaskan. Orang akan lebih melek saat kita bilang teller daripada deskol. Ga cuma itu, jenjang karir di BNI jelas sangat menjanjikan daripada Mandiri yang disana aku masih berstatuskan pegawai outsourch.

And now, I miss all about Mandiri.
But, I just love all about BNI.


Minggu, 19 Juli 2015

Nostalgia

Diposting oleh Unknown di 05.28 0 komentar

Minggu, 19 Juli 2015.

Lagi-lagi merasa random. Kemarin mellow gara-gara keinget usia yang ga lagi dapet angpao lebaran.

Malam ini iseng nyobain aplikasi guvera di hp. Karena aku aliran Sherina garis keras maka yang ku search pertama kali ialah nama my idola tentunya. Eh, munculah album sherina dari jaman bahula sampe yang paling kekinian.  Play music!

Ga berhenti sampe situ. Inget bahwa aku fans sherina maka berlarilah ke kamar lama (baca: kamar ibu). Ngubrek-ngubrek laci meja belajar jaman sekolah. Dan wallaaa ... Nemu album sherina jaman kanak-kanak.

Bahagia ? Banget !!!
Rasanya seperti memutar kembali memori masa kecil yang amat sangat tidak boleh dilupakan begitu saja.

Jadi bener kata akun @generasi90 bahwa,

"Bahagia itu sederhana. Nostalgia salah satunya".

Sabtu, 18 Juli 2015

Perjalanan Waktu

Diposting oleh Unknown di 15.04 0 komentar

Sabtu, 18 Juli 2015.

Tiba-tiba jadi terpikir bahwa waktu berjalan begitu cepat.

Dulu, aku hanyalah seorang siswa dengan masalah dimana nilai pelajaran tidak boleh kurang dari SKM. Ya, hanya itu masalahku.

Memasuki bangku perkuliahan, yang aku pikirkan mulai berubah. Bukan hanya bagaimana tentang nilai mata kuliah. Namun, ditambah dengan cerita cinta khas remaja. Tugas yang menumpuk dan galau tentang pacar mengisi hari-hariku diwaktu itu.

dan Sekarang. Aku sedang menulis blog ini. Banyak sekali hal yang kurasa berbeda. Mulai dari kesibukan sehari-hari. Pikiran dan masalah yang ga melulu soal cinta. Dan yang aku rasakan sekarang adalah bagaimana aku bisa melangsungkan hidup lebih baik dari hari ini. Dari segi kualitas kedewasaan dan juga kuantitas secara finansial. Dan tentu saja urusan percintaan harus lebih baik dari kemarin.

21 Juni 2015 lalu aku mencapai usia yang tak lagi muda. Aku sudah bekerja. Memiliki penghasilan sendiri. Dan lebaran tahun ini (alhamdulillah) tak lagi mendapat angpau dari keluarga.

Saat teringat bahwa sekarang aku telah memasuki usia produktif, ada hal yang membuatku sedih. Yaitu orangtuaku juga tak lagi sekuat saat menitahku belajar berjalan dan memarahiku saat aku pulang malam. Jam malam itu tak lagi ada. Dan kemarahan sudah berangsur berkurang seiring dengan sadarnya tingkahku yang tak pantas lagi nakal.

Aku... hanya ingin satu hal.
Melihat orangtuaku bangga terhadapku.
Dan semoga aku masih diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka di sisa waktu yang berjalan begitu cepat ini.

Kita tidak tahu siapa yang akan meninggalkan terlebih dahulu.
Namun yang pasti,
pasti akan ada yang ditinggalkan.
Suatu hari nanti.

Rabu, 18 Maret 2015

(Satu Lagi) Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohon

Diposting oleh Unknown di 06.04 0 komentar

18 Maret 2015

Me : lho, tangane ibuk kok kosongan? Tumben?
Ibuk : hoalah jeeenggg .. ibuk mari kene gendam ..
Me : *lemes

Di pagi hari saat aku berangkat kerja, bapak juga pergi keluar. Pergi ke dokter tht untuk memeriksakan telinganya yang sedang sakit. Ibu sendirian di rumah. Seperti biasa, memasak dan mengurusi pekerjaan rumah yang lain. Saat itu, ada seseorang bapak-bapak tiba-tiba masuk rumah. Langsung masuk ke dalam rumah karena memang kalau pagi, pagar selalu terbuka. Ditanya ibu ada apa dan dia menjawab mau menanyakan alamat. Setelah basa-basi akhirnya pergilah dia. Dan saat itu ibu baru sadar kalau gelang yang selalu dipakai sudah tidak ada. Lalu ibu ingat bahwa gelangnya diminta bapak yang tanya alamat tadi. Ibu tidak sadar telah "dengan sengaja" melepas gelang yang setiap hari selalu dipakai, karena memang bagi ibu itu gelang tidak seberapa mahal dan pas untuk dipakai sehari-hari. Tapi gimanapun ibu bilang "tidak seberapa mahal" ibu terlihat sangat sedih saat bercerita. Dan memang gelang itu yang paling disayang ibu dari perhiasan yang lainnya.

Me : ibuk kok ga cerito aku se? Meneng-meneng ae. Mbak ambe mas ngerti?
Ibu : lho. Lapo ibuk cerito-cerito iku? Nambah-nambahi pikiranmu ae. Wong mari kerjo iku mesti kesel e. Mosok ibuk nambah-nambahi pegel ae.
Me : laaahhhh -___-
Ibu : ibu yo ga cerito nang wong-wong. Iyo lek wong seneng kene, lek ga seneng lak malah ngapokno. Yowes aku meneng ae jeng.

Ini. Ini yang jadi prinsipku selama ini. Bahwa cerita sedih selalu aku keep dan hal tertentu baru aku share. Tapi juga bukan berati harus pamer terhadap kebahagiaan. Hanya saja aku selalu menfilter apa yang perlu di-share dan apa yang tidak perlu. Seperti ibu. Ibu tidak menceritakan kejadiaan buruk yang telah menimpanya, dia keep sendiri. Sampai ada yang tanya, lalu dia menjawab. Bagi ibu (dan bagiku), dengan kita bercerita tentang musibah yang menimpa kita, untuk sebagian orang yang benar-benar peduli, hanya akan menambah pikiran orang tersebut. Ibu dan aku tidak suka hal itu. Hal dimana kita semakin menambah pikiran orang lain dengan musibah yang kita alami. Dan bagi sebagian orang yang tidak peduli atau bahkan tidak suka akan kita, mereka akan bersyukur akan musibah yang menimpa kita. Itu kenapa aku selalu keep musibah. Ibu pun. Aku baru sadar (lagi) prinsip yang selalu aku pegang ini adalah turunan dari ibu. Alhamdulillah.

Mungkin karena prinsip tersebut, aku selalu dipandang orang hidup dalam keadaan santai, selalu bahagia, dan tak ada usaha. Aku pernah mendapat kata-kata (kurang lebih) seperti ini." Usaha yang kamu lakukan itu kurang. Aku dulu bela-belain pergi ke kfc cuma buat numpang wifi buat ngirim email lamaran kerja". Laaahhh.. kalau aku mau cerita, paket pulsa internet yang seharusnya cukup untuk pemakaian satu bulan, aku habiskan hanya dalam waktu dua minggu. Kenapa? Karena aku sering menyambungkan internet dari ponsel ke laptop melalui therethering and portable untuk meng-update info lamaran kerja di internet dan juga mengirim email melalui jaringan tersebut. Nah, kalau aku sudah bisa memanfaatkan teknologi yang aku genggam di rumah, apa perlu aku lari-lari ke kfc untuk numpang wifi? Engga kan?. Aku tidak pernah menceritakan bagaimana usahaku di rumah, karena bagiku memang tidak perlu. Biarlah orang hanya akan tau hasil yang aku dapat. Karena bukankah orang lain hanya melihat hasil yang kita dapat tanpa memperdulikan prosesnya? Iya bukan? Seperti seorang mahasiswa santai yang mendapat nilai A dalam mata kuliah sulit. Dia dipandang mahasiswa lain karena nyontek lah, ngerepek lah, atau apalah. Padahal kita kan gatau apa yang dia lakukan selama ini tanpa sepengetahuan mereka-mereka yang memandang hanya tampak dari luarnya saja.

Kurang lebih seperti itu sifat yang diturunkan ibu ke aku. Kita berdua sama-sama selalu memfilter apa yang perlu dibagi dengan orang lain. Dan apa yang perlu kita keep dan hanya dibagi dengan Allah SWT. Ini prinsip yang bagi sebagian orang dipandang aneh. Tapi bagiku, prinsip ini akan aku pegang selamanya. Dan aku turunkan juga ke anak-anakku nantinya. Semoga diberi kesempatan oleh Allah SWT. Amin.

Jumat, 13 Maret 2015

Tentang Operasi Kecil Pertamaku

Diposting oleh Unknown di 06.47 0 komentar

14 Maret 2015

Bangun pagi, sama sekali tak menyangka dan tak merencanakan untuk jumat kemarin. Pulang kerja tiba-tiba disuruh ibu untuk pergi ke dokter gigi. Aku punya gigi dengan lubang yang amat sangat parah. Geraham kiri bawah, letak gigi lubangku yang sudah tak memiliki mahkota. Sudah parah memang. Makanya ibu nyuruh segera untuk dicabut.

Saat sampai di klinik dokter gigi. Dokter yang menanganiku dokter masih muda nan ganteng. Dokter yang biasa merawat ortho-ku. Orangnya sabar dan perhatian. Tapi saat dilihat gigiku, dokter bilang bahwa harus diadakan "operasi kecil" untuk mencabut gigiku. Langsung kaya disamber petir. Bayangin aja, operasi kecil. Seumur-umur yang namanya opname aja belum pernah. Nah ini mala suru operasi kecil. OMG. Untung pas berangkat ditemenin ibu. Ya karena emang sangat takut untuk pergi ke dokter gigi.

Setelah menimbang-nimbang selama hampir setengah jam. Dijelasin ini itu resikonya. Sakitnya bakalan kaya gini dan gitu. Aku juga curhat masalah traumaku saat cabut gigi dulu. Si dokter juga janji bakalan dengan cara "halus" saat mengoperasiku. Akhirnya surat pernyataan untuk operasi aku tanda tangani. Dan persiapan untuk operasi kecil pencabutan gigi dimulai.

Seingetku, saat mataku masih terbuka, ada dua obat bius yang akan disuntikkan. Saat itu aku masih sanggup untuk membuka mata melihat jarum suntik beserta obat bius yang dipersiapkan. Sambil terus baca sholawat untuk menenangkan diri. Pertama kali yang dilakukan dokter adalah mengoles semacam salep ke gigiku yang lubang hingga ke gusinya. Ditunggu ada satu menit sampe merasa tebal sedikit. Lalu dimulailah penyuntikan obat bius yang pertama. Nah, ini aku sudah mulai merem dan si dokter selalu bilang rileks agar semua berjalan lancar. Saat sudah ditancapkan ke gusi dan obat dimasukkan, baru kerasa semacam digigit semut tapi di gusi. Selesai satu masih ada lagi obat bius yang akan disuntikkan. Kupikir hanya dua yang disuntik, ternyata ada empat kali suntikan bius. Setelah nunggu beberapa menit, akhirnya setengah dari bibir dan lidah berubah rasa menjadi tebal, getir, dan seperti kesemutan. Udahlah rasanya kaya bengkak. Berkali-kali bilang "ini rasae kok bengkak si dok?" dan si dokter cuma bilang "engga ga bengkak. ini wes kamu ngaca" dokter ngasi cermin dan emang ga bengkak.

Proses pembiusan selesai. Dimulai dengan proses pemecahan gigi. Ini digunakan alat semacam tang. Gatau deh alat apa, yang jelas mulai awal dibius sampai akhir aku cuma merem ga berani liat apa-apa. Sekalinya melek cuma pas disuruh kumur. Semacam tang mulai dimasukkan dan ditekan di gigiku yang lubang hingga bunyi "krek" pertanda gigiku udah pecah. Aku diem dan terus sholawat. Lalu dimasukkan lagi tang namun lebih kecil kepalanya, ini bagian pencabutan pertama karena gigiku ternyata pecah menjadi tiga bagian. Saat alat masuk, mulai ada tekanan dan mulai terasa ngilu. Dokter juga bilang,"ini mulai saya tekan ya. kalau sakit bilang". Dan aku cuma mengangguk. Ditekanlah alat itu ada beberapa saat, digoyang kanan kiri lalu dicabut. "Nah ini sudah keluar satu". Aku menghela napas. Dimasukin lagi alatnya, ditekan lagi. Ini yang agak sakit sampai aku merintih. Dokter cuma bilang," rileks. Kurang sedikit sudah". Aku mencoba merilekskan diri dan menahan rasa sakitku. Dan terasa lagi seperti gigi telah diambil. Dokter bilang,"sudah. Ayo melek wong sudah kok. Ga sakit kan?". Lalu aku membuka mata dan melihat si dokter. Tenang. Lalu dokter dengan sabar membersihkan darah-darahku yang sampai keluar dari mulut. Iya, sampai seperti "ngiler" tapi aku sama sekali ga kerasa karena bibirku tebel kena bius. Saat bagian dalam yang dibersihkan darahnya, ternyata dokter masih merasakan hal aneh dalam gigiku. Seperti masih ada gigi di dalam gusiku. Dan benar, setelah dilihat lagi, ternyata aku punya tiga akar gigi. Lalu dimasukkan lagi alat untuk mengambil potongan akar gigi ketigaku. Ini yang paling berasa tekanan dan ngilunya. Sangat amat ngilu waktu proses pencabutan. Dan saat keluar, gigi yang terakhir ternyata semacam bengkok. Makanya rasanya beda dari yang tadi. Ngilunya mana tahan.

Setelah semua gigi selesai dicabut dan sudah berkumur. Lalu dilakukan proses penjahitan. Seumur-umur belom pernah yang namanya jatuh lalu dijahit. Di tangan, atau di kaki belum pernah. Ini malah di gusi. Langsung lemes liat benang yang dikeluarkan dan dimainin sama si dokter. "Dijahit ya. Cuma dua jahitan. Ga sakit kok ini. Aku juga pernah, mala dulu dijahit temenku waktu praktek". Aku pikir dua jahitan itu cuma masukin jarum, tarik benang, masukin lagi, tarik benang lagi beres. Ternyata prosesnya lama. Kaya berasa empat kali jahitan tapi bener kata dokter sama sekali ga sakit. Cuma ada rasa geli saat benang di tarik. Proses selesai, suruh kumur lagi. Daaaaannn saat aku kumur banyak darah berceceran langsunglah nggeliyeng kepalaku karena memang aku takut akan darah. Lemes dan keringet dingin. Padahal operasinya berjalan lancar dan tak ada efek bengkak di pipiku. Cuma gara-gara liat darah dari kumurku, langsung lemes. Ditambah lagi sama si dokter yang agak usil diliatin gigi yang udah dicabut dan masih buanyak darahnya di depan mataku langsung. Duh wes ga karu-karuan.

Saat sudah selesai. Ibu dan mbak baru masuk untuk dijelasin bagaimana proses perawatan dan pemulihan seelah proses ini. Prosesnya banyak, obatnyapun juga banyak. Yang paling aku inget adalah tak boleh makan panas dan pedes. Suruh banyak makan es krim dan yang dingin-dingin. Padahal aku kalo ga pedes, makanan jadi eneg. Bzzt. Minum es krim pun gabole rasa coklat. Lah padahal yang vanilla kan eneg dokter :(. Selesai penjelasan lalu pergilah aku ke apotik untuk menebus obat. Iya aku dewe yang ke apotik lalu ke indomart beli es krim. Entah ya, setelah keluar ruangan dan si dokter menepuk punggungku sembari bilang," gimana? Ga sakit kan? Wong masih bisa senyum gitu kok. Pokoknya sehat. Senin kesini lagi lepas jahitan". Saat itu juga aku langsung seger. Lemes gara-gara darah langsung ilang. Jadi kuat dan bisa senyum-senyum lagi. Bisa gonceng ibuk juga buat ke apotik, indomart lalu baru pulang.

Oiya, aku baru tau kalo biasa operasi pencabutan gigi itu sampai 1,5jt. Aku pikir range harganya cuma 400-800rb. Buset dan ternyata sampe segitu. Untung di-atm masi ada simpenan. Tapi begitu ditransfer ke dokternya, atmku kasian langsung kembang kempis. Padahal itu duit ngumpulinnya ngos-ngosan. Secara aku masih nganggur abis wisuda. Fiuh. Sangat amat menguras atm. Belum lagi buat nebus obat. Duit di dompet langsung amblas. Ini kalo ga demi kesehatan ga berangkat deh.

Buat kamu-kamu yang punya gigi lubang. Jangan sampai kaya aku. Gigi uda ilang mahkota baru dicabut. Ngilu waktu dicabutnya itulo yang bikin trauma. Udahlah pokoknya kesehatan dijaga. Mahal cyin. :"(

Kamis, 12 Maret 2015

Ada yang Salah dengan Status?

Diposting oleh Unknown di 05.11 0 komentar

12 Maret 2015

*Sebuah percakapan antara murid dengan Ustadzah*
Murid : Ustadzah, tahun ini saya siap untuk menikah. Tolong dicarikan jodohnya. Saya ingin melaksanakan ta'aruf.
Ustadzah : Ada. Satu orang murid dari Ustadz, dia seorang berperawakan tinggi dan good looking. Ngajinya sudah kitab 4. Pekerjaan mapan. Dia seorang kepala sekolah. Umurnya baru 30tahun. Bagaimana? Kalo iya, saya akan kontak Ustadz untuk mengenalkannya kepada kamu.
Murid : Umur 30tahun?
Ustadzah : Iya. 30 tahun. Tapi, statusnya sudah duda.
Murid : Duda ?!!! Sudah Ustdzah tidak usah dilanjutkan.

Begitu kira-kira cerita seorang teman kepadaku kemarin. Dia bernama olip. Kemarin saat pertemuan bersamanya di sebuah mall untuk merayakan ulang tahun dan sedikit curhat masalah percintaanku, dia juga cerita tentang kisahnya akhir-akhir ini. Dengan penuh tertawa dia menceritakan bahwa dia akan diperkenalkan dengan seorang duda oleh Ustadzah-nya. Dengan lantang dia langsung bilang, tidak!. Karena masalah status si pria itu. Duda.

Bagi olip, status duda adalah masalah nomor satu yang membuat dia menolak. Dia merasa bahwa dia adalah seorang perawan yang sama sekali belum pernah "ngapa-ngapain"  dengan lawan jenis, ya masa mau dapat jodoh seorang duda? Dan dia juga berpikir bahwa status duda adalah sebuah cela yang benar-benar tidak bisa ditolerir. Saat dia bercerita kepadaku, dia takut aku akan menertawakannya karena akan diperkenalkan dengan duda. Padahal aku sama sekali tidak tertawa. Senyum-pun tidak. Malah heran. Emang ada yang salah dengan status duda? Toh, dia bukan duda cerai. Kata Ustadzah dia seorang yang agamis. Pekerjaan juga sudah amat sangat mapan. Dia menjadi duda karena ditinggalkan istrinya meninggal dunia yang disebabkan penyakit Liver. Dia juga belum punya anak. Lalu, dimana letak kesalahan dia?

Umur, jodoh dan rejeki manusia tidak ada yang tahu. Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta Alam dan seisinya. Takdir pun. Mana ada seorang yang merencanakan akan menjadi seorang duda/janda. Mana ada juga seorang yang mau ditinggalkan pasangannya itu dan akan merubah statusnya menjadi seorang duda/janda. Tidak ada yang mau. Tapi kalo Allah SWT berkata lain, manusia mau bilang apa selain tetap ikhlas menjalani hidup dan bersyukur dengan keadaan yang terjadi. So, dimana letak kesalahan dia? Karena statusnya duda? Emang ada yang salah dengan duda? Kalo ada bisa sebutin? Temanku diam saat aku bertanya seperti itu. Dia menunduk lalu berpikir. Saat aku memberikan penilaianku terhadap status duda/janda, olip hanya diam dan menyimak. Tapi dia tetap kekeh tidak mau dengan seorang duda. Menurut olip, dia pantas mendapatkan yang lebih baik karena dia masih sangat perawan. Nah, aku cuma bisa menanggapi begini, "Okey dia duda. Tapi belum punya anak kan? Dia juga bukan duda cerai. Ya kalo duda cerai, kamu boleh menghakimi dia. Karena nantinya kita masih akan ada urusan dengan mantan istrinya. Nah ini? Duda meninggal. Ada yang salah? Emang dia mau ditinggal istrinya meninggal? Engga kan? Kamu ga boleh menghakimi orang hanya karena takdirnya seperti itu. Buka mata hatimu. Ya itu sih cuma pendapatku. Kalopun kamu tetap gamau ya terserah. Itu cuma pandanganku".   Olip tetap tidak mau. Tapi aku lihat ada binar lain dalam sorot matanya. Seakan mengatakan bahwa dia akan memikirkannya lagi. Dan aku benar-benar ga sabar akan kelanjutan kisahnya. Jadi, temenku ini jadi dapet duda/perjaka yaaa? Haha XD

Senin, 09 Maret 2015

Happy Birthday, Olip!

Diposting oleh Unknown di 01.57 0 komentar

9 Maret 2015

Hari ini adalah hari bahagia seorang teman dekatku. Dia berulang tahun yang ke-24 tahun. Tapi sayang, kita tidak jadi bertemu karena aku sibuk dengan urusan rumah dan persiapan untuk besok. Maaf buat olipo. Rabu kita ketemu. Aku bakalan bawa sesuatu yang buat kamu seneng. Promise!

Selamat ulang tahun, kawanku. Semoga segala doa baik dikabulkan Allah SWT. Semoga apa yang kamu inginkan dari pertengahan tahun 2012 segera disegerakan Allah SWT. Yaitu menikah. Semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang mirip Zayn Malik. Akhlaknya kaya Alm. Uje. Syukur-syukur kalo dikasi yang tajir kaya Om Bob. Haha. Amin. Apapun itu aku cuma bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Ngeliat kamu seneng, akupun.

Inget waktu kita ngejar yudisium agustus 2014 kemaren? Gimana perjuangan kita lari-larian ngejar dosen. Gimana perjuanganmu yang lebih dari aku. Aku masih ingat betul gimana keringetannya kamu nunggu dosen sampe sore. Sampe kita kelaparan dan ngantuk bareng. Sampe ruangan dosen sepi. Sampe mbak satpam bilang "ga pulang aja mbak?" Karena emang uda terlalu sore kita disana. Gimana kamu ngos-ngosannya saat aku bilang "cepetan! Bu rinta ada di ruang dosen!" Gimana gelisahnya kamu saat tanggal penetapan SPK semakin dekat sedangkan kamu baru saja sidang. Dan yang paling kuingat adalah saat kamu telfon aku bahwa kamu akhirnya lulus Toefl walaupun hasilnya mepet. Semua orang tau aku menangis haru. Beneran aku nangis sampe anggun bilang "ya ampun retno nangis rek!!". Gimana ga mau nangis, aku yang bahasa inggrisnya pas-pasan ngajari Toefl seadanya cuma biar kamu bisa lulus bareng. Dan setelah 8x tes Toefl baru dinyatakan lulus. Bukan kamu kan yang nangis seneng, tapi aku.

Sekarang kita sama-sama tau bahwa kita sama-sama lulus. Sama-sama susah dari semester awal. Dan wisuda dihari yang sama. Entah, aku takut bilang kamu adalah sahabat yang terbaik buat aku. Karena setiap seorang yang aku bilang sahabat, mereka selalu hilang. Biarlah pertemanan kita ini hanyalah sebuah teman yang dekat. Bukan lebih. Tapi sampai nanti. Sama seperti yang sering aku ucapkan padamu. "Kita temenan aja. Gosah jadi sahabat. Tapi insya Allah sampe nanti". Dan kamu meng-iyakan kata-kataku.

Olip. Terima kasih kamu sudah ada dimasa aku sedang seneng pun sedih. Sudah dua kali ini saat aku menangis yang kucari kamu. Dan yang kuhampiri kamu. Ingat waktu dulu? Saat aku cerita tentang mantan pertamaku. Kamu menangis di KFC karena aku benar disakiti mantanku dan keluarganya. Tapi sekarang kamu jangan nangis lagi. Karena putusku yang sekarang bukan aku yang disakiti. Tapi aku yang menyakiti. Terima kasih juga saat aku menyalahkan diriku sendiri, kamu bisa membesarkan hatiku. Hingga aku tak terlalu merasa bersalah dan menyesal. Besok saat ketemu, aku sangat menunggu wejangan dari kamu. Wejangan yang bikin aku adem. Wejangan yang dulu bikin aku kuat. Kamu itu seperti guru agama buat aku. Tiap kali aku bingung sesuatu tentang agama, kamu datang dan memberi penjelasan. Saat aku bingung akan sesuatu, kamu ngasi pendapat dari sisi lain. Kamu bijak tapi kamu juga bisa diajak gosip bareng. Tiap kali kita ketemu bareng, ga jauh-jauh dari gosipin orang. Haha. Itu sama sekali bukan perbuatan yang baik. Mari kita kurangin. Ya. Kurangin aja jangan diilangin. Karena itu bumbu.

Ngomong-ngomong panjang juga tulisanku kali ini. Sebelum aku sudahi, aku cuma mau berharap bahwa pertemanan kita semoga sampai nanti. Kita jaga bener biar impian kita buat arisan bareng sambil bawa anak bisa beneran dikabulkan Allah SWT. Sekali lagi selamat ulang tahun, kawanku.

Jumat, 06 Maret 2015

Sedih dan Seneng itu Sepaket!

Diposting oleh Unknown di 16.16 0 komentar

7 Maret 2015

Hari dimana seorang teman sedang bergelut dengan masalahnya dan menumpahkan semua masalahnya kepadaku, ialah hari dimana aku juga sedang mengalami masalah dengan kekasihku. Aku sangat amat menjadi seorang teman yang baik dengan mendengarkan berbagai macam keluh kesah seorang teman. Dari pagi hingga malam dan memasuki pagi lagi. Hari dimana aku juga sedang bingung dengan kelanjutan hubunganku. Tapi aku sama sekali tidak menomorsatukan kepentinganku. Karena aku pikir, masalahku tidak ada apa-apanya dibandingkan temanku yang hampir batal menikah. Sedangkan aku? Hanya masalah putus cinta. Di usia yang baru lima bulan menjalaninya.

Disebut aku egois. Ya, memang aku egois dalam hal percintaanku dengan pasanganku. Tapi aku bukan seorang yang egois dalam menghadapi temanku. Aku selalu mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentinganku. Tapi, masih saja orang berkata aku egois.

Kuakui memang aku egois. Karena sifat itulah aku dan mantanku yang terakhir setuju memutuskan hubungan. Karena aku belum bisa ikhlas menerima sifat dan serentetan hobi berpetualangnya. Dan dia pun belum bisa menerima aku dan semua sifat kegoisanku - yang sebenarnya bisa ku potong jika ku mau -. Sudah kutawarkan jika aku bisa memotong egoku, namun katanya tetap tak bisa. Ya, daripada semua menjadi tekanan batin saat menjalani hubungan, sebaiknya disudahi hubungan yang baru seumur jagung ini.

Sedih? Jelas sedih. Aku sudah mulai sayang dan jatuh cinta dengannya. Dengan segala perhatian dan ketertarikanku padanya, dia membuatku yang awalnya biasa-biasa saja hingga menjadi mencintainya. Tapi, aku sadar bahwa niat awalku menerima dia sebagai pacar bukanlah semata-mata karena aku suka dan karena Allah. Melainkan harena hartanya. Itu bukan niat yang baik bukan saat mengawali sebuah hubungan? Dan alasan itulah yang membuatku sekarang sadar dan tak terlalu jatuh dalam lubang keterpurukan patah hati.

Satu hari hingga dua hari setelah hubunganku berakhir, tidurku sama sekali tidak nyenyak. Ada sesak di dalam dada. Ada perih dalam perut. Tapi itu semua bukan karena ashma ataupun maag. Ya karena masalah putus cinta. Saat aku mengalami itu semua, sialnya aku sedang ada diperiode bulanan. Mau curhat sama Allah terhadang karena belum suci. Dan Alhamdulilah keesokan harinya sudah bisa melaksanakan mandi besar dan akhirnya sholat. Kutumpahkan segala rasa sesalku, rasa salahku, dan curhatanku kepada Allah. Kuminta pertolonganNya serta bantuanNya, agar aku bisa ikhlas menghadapi kenyataan perih ini. Dan bisa berdamai dengan keadaan yang kualami sekarang. Lega. Walau dada masih terasa sesak. Lalu saat malam menjelang, sebelum tidur kuberdoa untuk diberikan tidur yang nyenyak, dihilangkan semua beban di dada, dilapangkan dadaku, dibesarkan hatiku, dan dibukakan pikiranku saat bangun. Dan alhamdulilah atas kuasa Allah SWT, aku bangun dengan dada yang tak terasa sesak lagi. Kuasa Allah memanglah luar biasa.

Satu hari dimana di pagi harinya aku menangis tersedu-sedu hingga sesenggukan di kamar. Menghabiskan banyak tissue. Ialah satu hari dimana aku merasakan kebahagian. Sorenya aku mendapatkan kabar bahwa aku adalah salah satu seorang yang beruntung yang lolos memasuki tahapan interview user di rekrutmen adp bank BNI. Alhamdulilah. Atas kuasa Allah, yang paginya aku menangis sedih, sorenya menangis bahagia. Karena memang dalam hidup ini yang namanya sedih dan seneng itu sepaket. Kalau sekarang aku sedang sedih memikirkan nasib kejombloanku, kita tidak tau kan di depan nanti akan ada pangeran yang menjemputku dengan kereta kuda. Sembari aku menunggu pangeranku, aku akan memperbaiki diriku. Agar aku bisa membahagiakan seseorang yang nantinya juga akan membahagiakanku. Aamiin.

Senin, 23 Februari 2015

The Power Of "I Love You"

Diposting oleh Unknown di 06.58 0 komentar

23 Februari 2015

Sebuah chat di siang hari:
Him: Ayaang
Me: Iya yaang
Him: Kok datar ya?
Me: Lagi bbm.an (padahal engga!)
Him: Oiya lupa seharian belum bilang.. I love You..
Me: *cuma diread *girang *senyum2 gajelas *bete langsung ilang
Him: ...
Me: I Love You too

Kira-kira seperti itu percakapan siang tadi. Yap. Sempat badmood sama itu orang. Gegara dia yang selalu update sosmed-sosmednya dibanding ngabarin pacarnya. Line cuma diread dan dia sibuk upload foto-foto touringnya kemarin. Bzzt. Hellooo... pacarmu ini butuh kabarmu, butuh perhatianmu, dan butuh ceritamu. Ini malah lagi-lagi followersnya yang dimanjain dengan berbagai upload.an foto. Situ pacaran sama aku apa followers? Eng ing eng..

Tapi dia pintar sekali membuat suasana mencair. Dia tau sekali bahwa pacarnya ini sedang berada dalam suasana hati yang sedang panas. Dan jurusnya berhasil, dia bilang "I Love You" selanjutnya suasana mencair. Bara api langsung padam dan gunung es langsung mencair. Siapa yang ga seneng coba dikasi kata "I Love You". Yaa walaupun kata itu cuma sekedar kata dan terkesan biasa. Namun buat aku itu luar biasa.

Aku menganggap bahwa dengan kamu berkata seperti itu, aku merasa bahwa aku masih menjadi seseorang yang spesial di hatinya dan tentunya ada tempat untuk aku di pikirannya. Sebuah kata yang sarat akan makna dan jika diucapkan akan membuat pendengar menjadi melting.

Aku pernah menulis tentang beberapa perubahan sikap si pacar akhir-akhir ini. Ya salah satunya adalah dia sudah jarang mengucap kata "I Love You" yang pada mulanya dia sendiri yang membuat rule. Rule dimana setiap hari kita berdua harus mengucapkan kata itu.

Beberapa minggu terakhir sudah jarang sekali terdengar. Ditambah lagi dengan chat melalui bbm yang emoticonnya bisa dibilang sangat biasa.  Hubungan sempat monoton dan terkesan membosankan. Hingga suatu waktu kita menggunakan Line kembali sebagai main chat. Entah kenapa isi obrolan jadi menarik lagi dan jauh dari kata jenuh. Mungkin karena banyak sticker lucu di dalamnya. Sticker brown dan cony yang saling memeluk dan mencium membuat suasana chat hidup dan menarik. Dan dia akhirnya tidak lupa lagi dengan rules yang dia buat. Setiap hari ini kita tak lupa mengucap "I Love You" dan aku sangat menikmatinya. Seperti menjadi moodboosterku setiap hari.

Makasih sayang, kamu sudah menghidupkan kembali obrolan kita yang sempat monoton. I Love You So Damn Much. ❤

Kamis, 19 Februari 2015

Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

Diposting oleh Unknown di 20.53 0 komentar

20 Februari 2015

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Begitulah pepatah berkata.

Dari akhir tahun 2014 lalu, bapak sedang gencar-gencarnya belajar ngaji. Bapak salah satu takmir masjid tapi beliau belum bisa mengaji. Yang dilakukan selama ini ya sekedar membaca tulisan indonesia dibanding arabnya. Nah, dari akhir tahun lalu aku mulai mengajari mengaji. Mulai dari iqro' jilid satu hingga sekarang sudah memasuki halaman akhir iqro' jilid enam. Selain belajar ngaji di rumah bersamaku, bapak juga mengaji bersama bapak-bapak yang lain dengan mendatangkan ustadz. Saat awal mulai belajar ngaji di masjid, banyak yang mengikuti program ngaji tersebut. Tapi semakin kesini dan semakin tinggi tingkatan iqro' yang dipelajari, satu per satu anggota mulai berhenti dengan sendirinya. Hingga suatu hari bapak berkata, "Pak Kamto yang biasanya jadi teman bapak di masjid sekarang sudah nyerah. Katanya sulit". Kira-kira seperti itu kata bapak. Lalu bapak bergumam sendiri bahwa sekarang dia dan ga sampai lima orang yang masih bertahan dan terus berusaha untuk bisa mengaji. Bapak bilang bahwa, "aku itu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Kalo belom bisa ngaji ya terusin. Ga setengah-setengah kaya orang-orang". Aku dan ibu yang mendapat curhatan tersebut hanya bisa tersenyum.

Akupun merasakan hal yang sama saat mengikuti kursus bahasa inggris. Periode awal kursus kehadiran mencapai seratus persen. Namun dipertengahan kursus hanya 40persen yang hadir. Sekarang aku baru sadar, ternyata sifat yang selama ini aku punya ini hasil dari gen bapak. Iya, baru banget sadar. Bapak dan aku sama-sama bukan bukan tipe orang yang mudah menyerah, mudah mengeluh, dan menyelesaikan segala pekerjaan hingga seratus persen.

Terima kasih bapak. Engkau telah menurukanku sifat yang menurutku baik untuk menjalani lika-liku kehidupan. Sifat yang pantang menyerah dan pantang mengeluh adalah sifat yang dari dulu kujunjung tinggi hingga sekarang dan sampai nanti. Dan akan kuturunkan juga kepada anak-anakku kelak.

Sebuah Kehadiran dan Pelukan

Diposting oleh Unknown di 06.26 0 komentar

19 Februari 2015

Ada yang bilang bahwa "bukan dateng engganya.. tapi ada kabar.. turut berduka.. via telp.." Hey, bukankah saat kita merindukan seseorang dengan hanya berikirim suara via telepon masih ada yang kurang? Nah, ini apalagi menyangkut yang sedang mengalami duka. Ditinggalkan orang tua membuat kita sangat amat merasa sedih. Aku tau gimana sedihnya ditinggalkan orang yang amat berarti, ya walaupun aku belum pernah merasakannya.

Ketika seseorang kesakitan/sedih, kamu ga harus ikut merasakan sakitnya (simpati), tapi harus memahami ia sakit (empati).

Sebuah kehadiran teramat sangat bermakna dikala kita sedang mengalami kesusahan. Datang saat teman merayakan pernikahannya adalah sesuatu yang lumrah. Seperti kita ada disaat orang lain bahagia. Namun, datang disaat teman sedang mengalami kesusahan seperti baru saja ditinggalkan orangtua meninggal adalah salah satu bentuk simpati yang seharusnya dinomorsatukan. Layaknya kita ada disaat orang lain kesusahan.

Jujur, untuk seorang teman aku termasuk tipe yang datang ke undangan pernikahan hanya yang kuanggap kenal baik saja. Untuk yang sekedar "kenal" atau "tau" saja ga aku datangi karena biasanya letaknya luar kota. Karena masih banyak orang yang akan bersuka cita merayakan kebahagiaan mereka. Sedangkan untuk teman yang sedang berduka, aku selalu datang. Selalu dan harus.

Sudah dua kali ini aku ada tepat disaat teman kehilangan orang tuanya. Yang pertama dulu waktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Namanya zaim. Aku ada di sampingnya saat tau bahwa ibunya telah meninggal. Aku melihat langsung ibunya yang sudah tak bernyawa tepat di depan mata kepalaku sendiri. Dan apa yang aku lakukan? Aku langsung memeluk temanku yang sedang bersedih itu. Kedua, saat sudah duduk di bangku kuliah. Namanya olip. Aku ada saat dia mendapat telepon bahwa ayahnya baru saja meninggal. Lagi-lagi yang kulakukan adalah memeluk temanku. Erat.

Dengan sebuah pelukan, kita seperti menyalurkan energi positif kepada si penerimanya. Seperti kita merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan. Sama-sama berduka, sama-sama sedih, dan sama-sama menangis. Pelukan adalah sebuah obat untuk menguatkan batin seseorang yang sedang terluka. Pelukan juga dibutuhkan bagi seorang yang teramat bahagia. Dengan sebuah pelukan, kita bisa merayakan hal yang menyenangkan bersama-sama.

Itu sebabnya, kenapa aku harus datang dikala teman sedang mengalami duka. Sebuah kehadiran dengan pelukan di dalamnya akan membuat efek seperti,
"Ini loh aku ada untuk kamu. Saat kamu sedih aku ada. Kamu boleh menangis di pelukanku supaya kamu sedikit tenang dan bisa meluapkan emosimu walau sesaat". Sebuah pelukan memberikan ketenangan tersendiri. Seperti kita mengelus punggung seseorang. Akan membawa kita rileks walau sesaat. Itu yang sangat dibutuhkan untuk seorang yang sedang jatuh. Karena buatku, sebuah pelukan adalah penyalur damai hati seseorang sekaligus pelega perasaan yang tak sanggup diungkapkan.

Untuk kekasihku,
"Aku butuh kamu untuk kupeluk saat kacaunya diriku menghadapi cobaan hidup. Dan aku juga butuh kamu untuk kupeluk saat aku merayakan apa yang dapat kuraih dalam hidup".

Selasa, 17 Februari 2015

Hell Yeah Social Media

Diposting oleh Unknown di 07.43 0 komentar

17 Februari 2015

Lucu, ketika kamu bilang "aku hanya guyonan maen social media" saat sebagian besar waktumu kamu habiskan dengan menunduk ke arah gadget.  Sebenarnya aku sama sekali ga masalah. Ya karena memang kerjaan mu mengharuskan kamu selalu update info di grup whatsapp. Tapi pernah ga sih kamu tau yang namanya "quality time" ?

Saat kita sedang hang out bareng. Kamu masih juga mengupdate info di gadgetmu. Bukan. Bukan masalah kerjaanmu. Setelah selesai kamu buka grup kerjaanmu, kamu tak lupa melihat recent update path dan bbm. Itu yang kamu bilang guyonan? Bukankan sebuah guyonan hanya sebagai pengisi waktu luang? Dan aku mulai sadar bahwa yang kamu anggap guyonan itu adalah prioritasmu. Setelah selesai, kamu baru akan menoleh ke arahku. Simpel sih, aku cemburu dengan sosmedmu, yang selalu kamu update dimanapun dan kapanpun kamu berada. Hingga kamu lupa bahwa di sebelahmu ada seseorang yang menunggumu. Menunggumu menoleh ke arahnya dan akan bercengkrama hangat seperti dulu. Saat kita masih hangat-hangatnya pacaran.

Hingga sekarang, aku sudah lupa rasanya ngobrol panjang denganmu. Segala macam topik pembicaraan bisa menjadi panjang. Mungkin memang, sekarang kita memasuki masa hanya memberi kabar semata. Mengucapkan selamat pagi dan bertanya sudah makan atau belum. Atau yang paling jauh "nanti mau kemana?". Hanya itu. Tanpa ada obrolan panjang nan menarik yang mengharuskan mengirim pesan dengan begitu cepatnya. Seperti saat pdkt.

Jujur, aku kangen masa-masa itu. Masa dimana kita saling tak ingat jam yang telah larut hanya karena obrolan panjang dan tawa yang lepas. Aku ga nyalahin atas perubahan sikapmu. Sama sekali ngga. Cuma aku mau kamu menyadari bahwa aku butuh kamu. Aku butuh perhatianmu seperti dulu.

Senin, 16 Februari 2015

Perubahan

Diposting oleh Unknown di 00.45 0 komentar

16 Februari 2015

Aku menulis ini bukan karena aku tak mau mengutarakannya secara langsung, hanya saja, aku belum terlalu kuat mendapat respon darimu.

Sayang, kamu tau tidak? Sekarang aku sedang lemah. Aku butuh bahumu dan pelukanmu. Tapi, entah kenapa aku merasa kamu semakin jauh. Aku tau ini semua juga karena aku. Kita semua tau bahwa tak akan ada reaksi tanpa adanya aksi.

Aku ga nyalahin kamu, hanya saja aku merasa kamu sedikit berubah. Ehm, sepertinya lebih dari sedikit.  Mungkin perubahanmu emang karena aku. Aku yang datar dan cuek menjadikan kamu sekarang juga begitu. Aku yang jarang pamit dan cerita hari-hariku, membuat kamupun seperti itu.

Kamu inget ga? Kalo dulu temenku pernah bilang bahwa manisnya pacaran hanya di 3 bulan pertama. Inget ga? Dan kamu jawab bahwa kamu ga percaya. Tapi yang aku sekarang rasain itu emang benar. Gada kata-kata manis yang keluar dari bibirmu. Gada telpon yang berdering saat kantuk melandaku. Dan gada lagi respon tentang tulisan-tulisanku di social media.

Pasti, kamu nganggep aku terlalu kekanakan ya? Terlalu manja? Atau terlalu drama? Iya emang aku seperti itu. Kalo boleh bilang, aku cuma kaget akan perubahan ini. Dulu, bisa dibilang aku orang yang kebal atas ketidakperhatian dari pasangan. Tapi, sejak bertemu kamu, aku merasa menjadi seorang yang diperhatikan. Seorang yang dilihat dan seorang yang didengar. Diantara sepi yang melandaku, kamu datang membawa kebahagiaan tersendiri.

Sejak bersamamu, aku selalu merasa diperhatikan. Selalu merasa ada yang melihat dan mendengar apa yang tak kuperlihatkan dan tak kuutarakan. Aku bahagia menjadi seseorang yang memiliki arti seperti itu.

Aku sudah mulai terbiasa akan hal-hal yang sudah kamu biasakan. Dan sekarang, aku juga mulai membiasakan lagi kebiasaan baru. Biasa tanpa ada respon, biasa tanpa adanya telepon, dan biasa tanpa adanya "I love You" yang katamu harus diucapkan setiap hari.

Pesanku untuk kamu yaang.

"Jangan pernah membiasakan sesuatu yang pada akhirnya kamu tak selalu bisa membiasakan itu".

Rabu, 11 Februari 2015

Day #13 I Stand By You

Diposting oleh Unknown di 14.17 0 komentar

11 Februari 2015

Untukmu yang masih sendiri,
Jangan pernah menganggap bahwa kamu seorang yang tak pantas untuk dicintai. Tidak, kamu hanya perlu membuka pintu hatimu dan cobalah untuk menerima keadaan. Keadaan bagaimana kita menjalani hidup bahwa tak selamanya apa yang kita mau menjadi nyata. Begitupun soal pasangan. Aku tak menganggap kamu terlalu pemilih. Tapi kamu tau bukan, tak ada yang sesempurna dan tak akan ada seseorang persis seperti yang kamu mau. Maka, bukalah mata dan pintu hatimu.

Untukmu yang sedang patah hati,
Aku tau bagaimana perasaan yang kamu hadapi sekarang. Akupun pernah merasakannya. Mungkin tidak sesakit dirimu. Ya, usia hubungan yang telah menginjak tahun ke delapan dan harus berhenti tanpa ada ending yang membahagiakan adalah suatu hal yang perih untuk dihadapi. Bahkan ribuan helai tisu pun tak akan cukup untuk mengusap air matamu. Tapi kamu tau bukan, bahwa badai pasti akan berlalu. Hujan pasti akan reda. Luka pasti akan sembuh. Begitupun harimu sekarang. Pasti bisa kamu lalui. Dan senyum yang ada diwajahmu, juga akan mengembang di hatimu.

Untukmu yang akan menikah,
Kamu adalah seseorang yang dalam waktu dekat ini akan mengalami kebahagiaan tiada tara. Mimpi terbesar seorang wanita akan kamu dapatkan. Yaitu, menikah. Tapi mengapa kamu selalu bersedih? Muram? Dan merasa bimbang? Coba hilangkan semua perasaan was-was yang ada dalam pikiranmu. Masalahmu dengan (calon) pasanganmu tentang urusan pernikahan yang tak kunjung usai dengan penyelesaian jarak jauh memanglah hal yang sulit. Aku tau itu. Akupun ikut larut dalam kebingungan saat kamu menceritakan semuanya. Tapi sabarlah. Hanya 3 bulan mulai sekarang kamu akan menjadi wanita yang paling beruntung dan bahagia. Yang akan menjadi ratu dalam sehari. Percayakan semua pada pasanganmu. Kalau dia benar jodohmu, maka dia tau apa yang harus dia lakukan untuk semua masalah yang kamu hadapi sekarang.

Untukmu(ku) yang masih mencari pekerjaan,
Aku sebut kita. Iya, kamu dan aku yang masih mencari pekerjaan. Selepas wisuda bukan malah lega, namun kebingungan melanda kita. Aku tau yang kamu rasakan karena aku benar-benar masih ada di fase ini. Kamu yang selalu mengeluh bahwa ijasah yang kamu punya belum juga 'laku'. Kamu yang selalu bilang bahwa kamu sudah cukup stress untuk ini. Akupun. Namun sekalipun aku tak pernah berpikiran seperti itu. Aku hanya berpikir bahwa ini belum waktunya. Bukankah hidup bukan tentang mengeluh. Bukan tentang menyesalkan apa yang kita alami. Dan bukan tentang memaki masalah yang kita hadapi. Bukan itu. Menurutku, hidup itu tentang usaha dan doa. Cobalah kamu hilangkan keluh kesahmu yang tiada henti itu. Gantilah dengan usaha dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Mungkin pekerjaan belum datang pada kita. Tapi percayalah, bahwa setidaknya kita telah melegakan hati dan membuka pintu rezeki kita semakin dekat.

Teman-temanku dan aku, mari kita berdamai pada keadaan yang kita alami sekarang. Sekarang akan segera berganti dengan nanti. Kita tidak tau akan apa yang ada di depan kita. Tapi yakinlah bahwa rencana Tuhan tak ada yang tak baik. Marilah kita menggenggam dan saling menguatkan. Kita berjalan bersama menuju cahaya yang akan segera menyinari kita. Dengan mengucap "Bismillahirrohmanirrohim" kita pasti bisa menghadapi ini semua. Amin.

Love you all,
Retno.

Minggu, 08 Februari 2015

Day #11 Yaang ke Sembilan

Diposting oleh Unknown di 16.50 0 komentar

9 Februari 2015

Dear pemilik akun @fendyhertanto,

Selamat tanggal 9 yang kelima bulan. Sebenarnya ganjil kalo tiap bulan bilang ini. Tapi kamu yang memulainya dan aku sangat menikmatinya.

Yaang. Aku mau tanya. Apa rasamu ke aku masi sama kaya waktu awal pacaran? Masih sama, makin nambah, atau mala makin kurang? Aku tanya ini bukan karena aku ga yakin. Engga. Aku cuma makin cinta kamu. Tiap hari. Yaa walaupun aku sering bikin kamu gengges karena mood-ku yang ga jelas.

Yaang. Inget ga waktu awal kita jadian aku bilang kalo aku cemburuan. Iya. Aku cemburuan. Bahkan sama temenmu sendiri. Sekarang keliatan kan? Maafin aku ya.

Yaang. Inget ga waktu itu kamu bilang kalo tiap hari kudu bilang "I love You?". Waktu itu aku heran. Kemudian aku bahagia. Tapi kenapa sekarang uda jarang? Ah, mungkin itu cuma perasaanku.

Yaang. Buat kamu aku orang yang amat sangat labil. Sampe kamu sering bingung sama aku. Mungkin itu bawaan geminian. Tapi kamu tau, cintaku sama kamu ga labil ya. Masih sama dan terus nambah.

Yaang. Ini hari senin tanggal sembilan. Sebentar lagi tanggal empat belas dan itu valentine's day. Inget ga aku minta apa? Aku minta permen sugus rasa nanas. Permintaanku sederhana. Tapi cintaku sama kamu luar biasa.

Yaang. I love you so damn much.

Love,

Retno.

Jumat, 06 Februari 2015

Day #9 Teman?

Diposting oleh Unknown di 12.56 0 komentar

Untuk kamu yang sedang bahagia.

Ingatkah kamu saat butuh aku? Option Ping!!! Bbm sampai jebol kamu kirim ke aku. Kemudian aku datang. Ku tanya "Ada apa?". Jawabmu "Aku butuh bantuin". Dengan sigapnya lalu aku membantu. Tanpa ada yang kupikirkan segera ku berangkat. Lalu apa balasannya? Tidak ada. Tidak. Aku tidak mengharap balasan apapun darimu. Seenggaknya, jangan datang dikala membutuhkanku saja. Setelah apa yang kamu butuhkan selesai, kamu pergi.

Apa itu yang dibilang teman?

Ini loh sebabnya aku selalu tidak percaya akan pertemanan. Belum ada yang benar-benar ada saat sedih pun senang. Semua cuma ada saat ada butuhnya. Untungnya, aku bukanlah yang seperti itu.

Dari seseorang yang kamu anggap "teman baik". Terima kasih.

Rabu, 04 Februari 2015

Day #7 Kekuatan Besar Itu

Diposting oleh Unknown di 16.47 0 komentar
5 Februari 2015

Ada sesak tapi bukan asma.
Ada perih tapi buka maag.
Lantas itu apa?

Kira-kira seperti itulah yang kurasakan sekitar setahun yang lalu. Akupun tak sadar, entah kekuatan darimana aku bisa menggantinya dengan sebuah senyuman yang selalu mengembang di bibirku.

Kamu tau aku begitu kuat karena apa? Karena aku selalu ingat bahwa masih banyak hal yang membahagiakanku dibanding membuatku merasa sedih dan terpuruk.

Aku punya keluarga yang selalu menghangatkanku.
Aku punya teman-teman yang selalu menceriakan hariku.
Dan yang paling penting, aku punya Tuhan yang selalu mengulurkan tangannya untuk kuraih dan kugenggam,  agar aku selalu bisa berdiri tegak.

Aku, manusia dengan begitu banyak keberuntungan dan aku sadar itu. Terima kasih Tuhan, engkau selalu membuatku merasa bersyukur.

Love,
Retno. ❤

Day #6 For The First Time In Forever

Diposting oleh Unknown di 00.52 0 komentar
4 Februari 2015

Yang ku ingat dari sebuah pertemuan pertama adalah bulu mata lentikmu. Iya, bulu matamu yang lentik membuatku terpesona. Saat itu.

Jujur, sampai sekarang pertemuan itu masi menjadi sebuah pertemuan yang istimewa. Kenapa? Karena kamu yang pertama kali membuat otakku memberi perintah kepada jemariku untuk mengetik 'ya' pada seseorang yang hanya berkomunikasi melalui pesan singkat.

Kamu, seorang yang pernah singgah di hatiku. Seorang yang pernah membuat hariku berwarna. Seorang yang pernah membuat bibirku terangkat keatas sebagai tanda kebahagiaan. Sekaligus seorang yang membuat mataku menitikkan air mata sebagai tanda kekecewaan.
Apa kabar kamu? Ku harap seperti kata-katamu dulu bahwa kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Akupun baik-baik saja sekarang. Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku bahagia. Sangat bahagia bersama penggantimu.

Dulu, aku sempat berpikir bahwa aku tak mungkin bisa mendapat kebahagiaan lain selain darimu.
Dulu, aku sempat mengira bahwa hanya kamulah yang membuatku jatuh cinta.
Dulu, aku sempat tidak yakin adanya cinta lagi.

Tapi itu dulu. Sebelum aku berdamai dengan masa lalu. Sekarang ada seseorang hebat yang membuatku kesulitan untuk mengingat kenangan manisku bersamamu. Sungguh, aku sangat kesulitan jika disuruh bercerita kembali tentang kita dulu. Seorang itu benar-benar luar biasa. Dia yang mengajarkanku berdamai dengan masa laluku bersamamu. Bukan seperti kamu, yang menyuruhku pergi darimu. Beruntung aku telah terlepas dari pikiran yang sempat membutakanku selama hampir setahun.

Untukmu kemarinku...
Terima kasih untuk pertemuan manis.
Semanis juice yang kita habiskan.
Dan terima kasih juga untuk perpisahan yang kata orang 'baik-baik'.
Namun menyisakan linangan air matamu...
.
.
.
... di celana jinsku.

Regards,
Your ex.

Selasa, 03 Februari 2015

Day #5 My Future Husband

Diposting oleh Unknown di 15.32 0 komentar
3 Februari 2015

To: My Future Husband

Hello, good morning..
 
How are you today? Great?
I may don't know who you are and where you are, but I just want to make sure that you will never give up to find me.
Because I'll be waiting for you here.
I love you :)

From: Your Future Wife

Senin, 02 Februari 2015

Day #4 Prince Charming in My Childhood

Diposting oleh Unknown di 06.34 0 komentar
2 Februari 2015

Hallo Prince Charming di masa kecilku..

Aku masih ingat betul bagaimana kita bertukar crayon untuk mewarnai buku bergambar. Aku juga masih ingat bagaimana kita bermain hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Berlarian dari satu gang ke gang lain dengan tawa riang. Dan aku juga masih sangat ingat bagaimana kamu mengusir laba-laba yang mengangguku dengan keberanianmu.

Setelah kepindahan itu, kita sama sekali lost contact. Sama sekali tak pernah bertatap muka lagi. Hingga saat aku mengingatmu, hanya terlintas samar-samar wajah dengan tahi lalat dekat bibir. Itu kamu.

Kamu, masihkah mengingatku? Ah, kurasa kamu pasti lupa. Karena aku hanya bagaikan goresan diatas pasir pantai, yang akan hilang seiring dengan datangnya ombak.

Regards,
Yang akan selalu mengingat masa kecil kita.

Sabtu, 31 Januari 2015

Day #2 Katakan Padanya, Owi.

Diposting oleh Unknown di 16.23 0 komentar
31 Januari 2015
Pertemuan ini berbeda seperti pertemuan sebelumnya. Kali ini menyisakan kekecewaan di hatiku. Aku masih enggan bercerita. Tapi aku benar-benar kecewa.
Memasuki kamar, kulepas dan kuhempaskan begitu saja kerudungku. Terduduk aku di atas kasur. Kemudian tanpa sengaja mataku menatap nanar ke arah pojok meja belajar. Kemudian tersenyum kecut.
Ada sebuah boneka di dalam kotak. Bertuliskan namaku lengkap dengan title yang baru kudapat. Boneka itu bernama Owi. Iya, kunamakan Owi, singkatan dari bOneka WIsuda. Baru kali ini aku memberi nama pada sebuah boneka. Owi boneka istimewa. Ku dapat Owi dari seseorang sebagai kado wisudaku. Owi, boneka dari seseorang baru membuat hatiku sedikit kecewa.
Owi..
Kamu berhasil membuatku tersenyum,
bahkan sebelum melihatmu secara langsung.
Kamu berhasil membuatku jatuh cinta,
seperti mendapat sebuah doa yang dikabulkan.
Kamu berhasil membuatku menjadi seseorang yang istimewa,
disaat aku merasa bukan siapa-siapa.
Terima kasih, owi.
Kamu membahagiakan ku.
Owi..
Katakan pada pemilikmu dulu. Bahwa aku sedikit kecewa dengannya malam ini. Tapi tak sedikitpun rasa sayangku berkurang kepadanya.

Kamis, 29 Januari 2015

Surat Cinta Untuk Tuhan

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 12.15 0 komentar

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-1


Jumat, 30 Januari 2015

Assalamualaikum.
Hari ini adalah hari pertama dimana event #30HariMenulisSuratCinta diadakan. Hari pertama kali pula aku menulis sebuah surat cinta. Dan memang yang pertama ku cintai adalah Allah. Sang Maha Pencipta alam semesta beserta isi dan segala permasalahannya.

Ya Allah, aku tau bahwa tanpa surat ini Allah tetap akan bisa mendengar segala ucapan pun doa yang ku panjatkan. Namun ijinkanlah aku untuk menulis surat betapa bersyukurnya aku atas karunia yang telah Kau beri selama ini.

Ya Allah, tiada satu haripun aku lewatkan tanpa bersyukur kepada-Mu. Meskipun sekarang aku sedang berada di titik terberat dalam hidupku. Aku tak pernah menganggup-Mu tak adil. Tak pernah menganggap-Mu memberi cobaan kepada hidupku. Dan tak pernah menganggap-Mu tak mengulurkan pertolongan-Mu.

Ya Allah, aku tau bahwa setiap apa yang Engkau ciptakan dan apa yang Engkau berikan selalu ada tujuan pun manfaatnya. Seperti sekarang ini, Engkau telah memberiku sebuah kekuatan besar, kekuatan yang aku sendiri tidak sadar bahwa bisa mengangkatnya. 

Ya Allah, terima kasih telah ada disisiku. Dari aku pertama kali menangis di dunia ini, hingga aku dapat mengetik surat ini.
Ya Allah, terima kasih telah memberiku sebuah keluarga yang hangat, penuh kasih sayang serta perhatian di dalamnya. Kalaupun aku bisa dilahirkan kembali, aku tetap akan memilih keluarga ini yang akan menemani hidupku.
Ya Allah, terima kasih telah menciptakan sepasang manusia yang sungguh luar biasa. Dengan raga yang kuat dan jiwa yang sehat. Beliau adalah kedua orangtuaku. Dengan umur mereka yang tidak lagi muda, beliau masih sangat kuat untuk mendampingi segala keterbatasanku ini.
Ya Allah, terima kasih telah memberiku dua orang kakak yang senantiasa membuatku bahagia dan melengkapi kehangatan dalam keluargaku.
Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan aku dengan orang-orang yang ada di sekelilingku. Entah itu kawan ataupun (yang menganggapku) lawan, aku percaya bahwa mereka punya porsinya masing-masing dalam mengisi hari-hariku.
Ya Allah, terima kasih engkau telah mengijinkanku merasakan adanya cinta (kembali). Mempertemukanku dengan seseorang hebat yang bisa membuatku jatuh cinta lagi dan membuatku tersenyum setiap hari.
Ya Allah, terima kasih telah memberiku masalah. Masalah yang harus selalu aku lewati dengan atau tanpa beban di dalamnya. Masalah yang akan membuatku semakin dewasa, kuat, dan mengajarkan bagaimana hidup itu seharusnya berlangsung.
Ya Allah, terima kasih telah membuatku kuat saat aku menerima kegagalan. Membuatku tetap berdiri tegak saat aku dikucilkan. Membuatku tetap tersenyum saat aku dirundung duka. Dan  membuatku percaya akan masa depan saat aku merasa tidak punya harapan.
Ya Allah, yang aku minta dari-Mu hanya satu. Berikanlah kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingku. Karena dengan melihat senyum kebahagiaan dari mereka adalah hal yang paling `melegakan`dalam hidupku.
Ya Allah, surat yang kutulis dengan tulus ini semata-mata hanya ku persembahkan pada-Mu. Semoga Allah suka akan tulisan surat cinta pertama ini dan simpan baik-baik suratku ini. Kalau-kalau Allah kangen, baca lagi dan lagi. Agar Allah ingat bahwa ada hamba-Mu di bawah sini yang selalu menganggap-Mu ada dan selalu merindukan-Mu...

Sincerely,
Yang selalu mencintai-Mu dan mencintai ciptaan-Mu.
 

A Piece of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review