14 Maret 2015
Bangun pagi, sama sekali tak menyangka dan tak merencanakan untuk jumat kemarin. Pulang kerja tiba-tiba disuruh ibu untuk pergi ke dokter gigi. Aku punya gigi dengan lubang yang amat sangat parah. Geraham kiri bawah, letak gigi lubangku yang sudah tak memiliki mahkota. Sudah parah memang. Makanya ibu nyuruh segera untuk dicabut.
Saat sampai di klinik dokter gigi. Dokter yang menanganiku dokter masih muda nan ganteng. Dokter yang biasa merawat ortho-ku. Orangnya sabar dan perhatian. Tapi saat dilihat gigiku, dokter bilang bahwa harus diadakan "operasi kecil" untuk mencabut gigiku. Langsung kaya disamber petir. Bayangin aja, operasi kecil. Seumur-umur yang namanya opname aja belum pernah. Nah ini mala suru operasi kecil. OMG. Untung pas berangkat ditemenin ibu. Ya karena emang sangat takut untuk pergi ke dokter gigi.
Setelah menimbang-nimbang selama hampir setengah jam. Dijelasin ini itu resikonya. Sakitnya bakalan kaya gini dan gitu. Aku juga curhat masalah traumaku saat cabut gigi dulu. Si dokter juga janji bakalan dengan cara "halus" saat mengoperasiku. Akhirnya surat pernyataan untuk operasi aku tanda tangani. Dan persiapan untuk operasi kecil pencabutan gigi dimulai.
Seingetku, saat mataku masih terbuka, ada dua obat bius yang akan disuntikkan. Saat itu aku masih sanggup untuk membuka mata melihat jarum suntik beserta obat bius yang dipersiapkan. Sambil terus baca sholawat untuk menenangkan diri. Pertama kali yang dilakukan dokter adalah mengoles semacam salep ke gigiku yang lubang hingga ke gusinya. Ditunggu ada satu menit sampe merasa tebal sedikit. Lalu dimulailah penyuntikan obat bius yang pertama. Nah, ini aku sudah mulai merem dan si dokter selalu bilang rileks agar semua berjalan lancar. Saat sudah ditancapkan ke gusi dan obat dimasukkan, baru kerasa semacam digigit semut tapi di gusi. Selesai satu masih ada lagi obat bius yang akan disuntikkan. Kupikir hanya dua yang disuntik, ternyata ada empat kali suntikan bius. Setelah nunggu beberapa menit, akhirnya setengah dari bibir dan lidah berubah rasa menjadi tebal, getir, dan seperti kesemutan. Udahlah rasanya kaya bengkak. Berkali-kali bilang "ini rasae kok bengkak si dok?" dan si dokter cuma bilang "engga ga bengkak. ini wes kamu ngaca" dokter ngasi cermin dan emang ga bengkak.
Proses pembiusan selesai. Dimulai dengan proses pemecahan gigi. Ini digunakan alat semacam tang. Gatau deh alat apa, yang jelas mulai awal dibius sampai akhir aku cuma merem ga berani liat apa-apa. Sekalinya melek cuma pas disuruh kumur. Semacam tang mulai dimasukkan dan ditekan di gigiku yang lubang hingga bunyi "krek" pertanda gigiku udah pecah. Aku diem dan terus sholawat. Lalu dimasukkan lagi tang namun lebih kecil kepalanya, ini bagian pencabutan pertama karena gigiku ternyata pecah menjadi tiga bagian. Saat alat masuk, mulai ada tekanan dan mulai terasa ngilu. Dokter juga bilang,"ini mulai saya tekan ya. kalau sakit bilang". Dan aku cuma mengangguk. Ditekanlah alat itu ada beberapa saat, digoyang kanan kiri lalu dicabut. "Nah ini sudah keluar satu". Aku menghela napas. Dimasukin lagi alatnya, ditekan lagi. Ini yang agak sakit sampai aku merintih. Dokter cuma bilang," rileks. Kurang sedikit sudah". Aku mencoba merilekskan diri dan menahan rasa sakitku. Dan terasa lagi seperti gigi telah diambil. Dokter bilang,"sudah. Ayo melek wong sudah kok. Ga sakit kan?". Lalu aku membuka mata dan melihat si dokter. Tenang. Lalu dokter dengan sabar membersihkan darah-darahku yang sampai keluar dari mulut. Iya, sampai seperti "ngiler" tapi aku sama sekali ga kerasa karena bibirku tebel kena bius. Saat bagian dalam yang dibersihkan darahnya, ternyata dokter masih merasakan hal aneh dalam gigiku. Seperti masih ada gigi di dalam gusiku. Dan benar, setelah dilihat lagi, ternyata aku punya tiga akar gigi. Lalu dimasukkan lagi alat untuk mengambil potongan akar gigi ketigaku. Ini yang paling berasa tekanan dan ngilunya. Sangat amat ngilu waktu proses pencabutan. Dan saat keluar, gigi yang terakhir ternyata semacam bengkok. Makanya rasanya beda dari yang tadi. Ngilunya mana tahan.
Setelah semua gigi selesai dicabut dan sudah berkumur. Lalu dilakukan proses penjahitan. Seumur-umur belom pernah yang namanya jatuh lalu dijahit. Di tangan, atau di kaki belum pernah. Ini malah di gusi. Langsung lemes liat benang yang dikeluarkan dan dimainin sama si dokter. "Dijahit ya. Cuma dua jahitan. Ga sakit kok ini. Aku juga pernah, mala dulu dijahit temenku waktu praktek". Aku pikir dua jahitan itu cuma masukin jarum, tarik benang, masukin lagi, tarik benang lagi beres. Ternyata prosesnya lama. Kaya berasa empat kali jahitan tapi bener kata dokter sama sekali ga sakit. Cuma ada rasa geli saat benang di tarik. Proses selesai, suruh kumur lagi. Daaaaannn saat aku kumur banyak darah berceceran langsunglah nggeliyeng kepalaku karena memang aku takut akan darah. Lemes dan keringet dingin. Padahal operasinya berjalan lancar dan tak ada efek bengkak di pipiku. Cuma gara-gara liat darah dari kumurku, langsung lemes. Ditambah lagi sama si dokter yang agak usil diliatin gigi yang udah dicabut dan masih buanyak darahnya di depan mataku langsung. Duh wes ga karu-karuan.
Saat sudah selesai. Ibu dan mbak baru masuk untuk dijelasin bagaimana proses perawatan dan pemulihan seelah proses ini. Prosesnya banyak, obatnyapun juga banyak. Yang paling aku inget adalah tak boleh makan panas dan pedes. Suruh banyak makan es krim dan yang dingin-dingin. Padahal aku kalo ga pedes, makanan jadi eneg. Bzzt. Minum es krim pun gabole rasa coklat. Lah padahal yang vanilla kan eneg dokter :(. Selesai penjelasan lalu pergilah aku ke apotik untuk menebus obat. Iya aku dewe yang ke apotik lalu ke indomart beli es krim. Entah ya, setelah keluar ruangan dan si dokter menepuk punggungku sembari bilang," gimana? Ga sakit kan? Wong masih bisa senyum gitu kok. Pokoknya sehat. Senin kesini lagi lepas jahitan". Saat itu juga aku langsung seger. Lemes gara-gara darah langsung ilang. Jadi kuat dan bisa senyum-senyum lagi. Bisa gonceng ibuk juga buat ke apotik, indomart lalu baru pulang.
Oiya, aku baru tau kalo biasa operasi pencabutan gigi itu sampai 1,5jt. Aku pikir range harganya cuma 400-800rb. Buset dan ternyata sampe segitu. Untung di-atm masi ada simpenan. Tapi begitu ditransfer ke dokternya, atmku kasian langsung kembang kempis. Padahal itu duit ngumpulinnya ngos-ngosan. Secara aku masih nganggur abis wisuda. Fiuh. Sangat amat menguras atm. Belum lagi buat nebus obat. Duit di dompet langsung amblas. Ini kalo ga demi kesehatan ga berangkat deh.
Buat kamu-kamu yang punya gigi lubang. Jangan sampai kaya aku. Gigi uda ilang mahkota baru dicabut. Ngilu waktu dicabutnya itulo yang bikin trauma. Udahlah pokoknya kesehatan dijaga. Mahal cyin. :"(
0 komentar:
Posting Komentar