18 Maret 2015
Me : lho, tangane ibuk kok kosongan? Tumben?
Ibuk : hoalah jeeenggg .. ibuk mari kene gendam ..
Me : *lemes
Di pagi hari saat aku berangkat kerja, bapak juga pergi keluar. Pergi ke dokter tht untuk memeriksakan telinganya yang sedang sakit. Ibu sendirian di rumah. Seperti biasa, memasak dan mengurusi pekerjaan rumah yang lain. Saat itu, ada seseorang bapak-bapak tiba-tiba masuk rumah. Langsung masuk ke dalam rumah karena memang kalau pagi, pagar selalu terbuka. Ditanya ibu ada apa dan dia menjawab mau menanyakan alamat. Setelah basa-basi akhirnya pergilah dia. Dan saat itu ibu baru sadar kalau gelang yang selalu dipakai sudah tidak ada. Lalu ibu ingat bahwa gelangnya diminta bapak yang tanya alamat tadi. Ibu tidak sadar telah "dengan sengaja" melepas gelang yang setiap hari selalu dipakai, karena memang bagi ibu itu gelang tidak seberapa mahal dan pas untuk dipakai sehari-hari. Tapi gimanapun ibu bilang "tidak seberapa mahal" ibu terlihat sangat sedih saat bercerita. Dan memang gelang itu yang paling disayang ibu dari perhiasan yang lainnya.
Me : ibuk kok ga cerito aku se? Meneng-meneng ae. Mbak ambe mas ngerti?
Ibu : lho. Lapo ibuk cerito-cerito iku? Nambah-nambahi pikiranmu ae. Wong mari kerjo iku mesti kesel e. Mosok ibuk nambah-nambahi pegel ae.
Me : laaahhhh -___-
Ibu : ibu yo ga cerito nang wong-wong. Iyo lek wong seneng kene, lek ga seneng lak malah ngapokno. Yowes aku meneng ae jeng.
Ini. Ini yang jadi prinsipku selama ini. Bahwa cerita sedih selalu aku keep dan hal tertentu baru aku share. Tapi juga bukan berati harus pamer terhadap kebahagiaan. Hanya saja aku selalu menfilter apa yang perlu di-share dan apa yang tidak perlu. Seperti ibu. Ibu tidak menceritakan kejadiaan buruk yang telah menimpanya, dia keep sendiri. Sampai ada yang tanya, lalu dia menjawab. Bagi ibu (dan bagiku), dengan kita bercerita tentang musibah yang menimpa kita, untuk sebagian orang yang benar-benar peduli, hanya akan menambah pikiran orang tersebut. Ibu dan aku tidak suka hal itu. Hal dimana kita semakin menambah pikiran orang lain dengan musibah yang kita alami. Dan bagi sebagian orang yang tidak peduli atau bahkan tidak suka akan kita, mereka akan bersyukur akan musibah yang menimpa kita. Itu kenapa aku selalu keep musibah. Ibu pun. Aku baru sadar (lagi) prinsip yang selalu aku pegang ini adalah turunan dari ibu. Alhamdulillah.
Mungkin karena prinsip tersebut, aku selalu dipandang orang hidup dalam keadaan santai, selalu bahagia, dan tak ada usaha. Aku pernah mendapat kata-kata (kurang lebih) seperti ini." Usaha yang kamu lakukan itu kurang. Aku dulu bela-belain pergi ke kfc cuma buat numpang wifi buat ngirim email lamaran kerja". Laaahhh.. kalau aku mau cerita, paket pulsa internet yang seharusnya cukup untuk pemakaian satu bulan, aku habiskan hanya dalam waktu dua minggu. Kenapa? Karena aku sering menyambungkan internet dari ponsel ke laptop melalui therethering and portable untuk meng-update info lamaran kerja di internet dan juga mengirim email melalui jaringan tersebut. Nah, kalau aku sudah bisa memanfaatkan teknologi yang aku genggam di rumah, apa perlu aku lari-lari ke kfc untuk numpang wifi? Engga kan?. Aku tidak pernah menceritakan bagaimana usahaku di rumah, karena bagiku memang tidak perlu. Biarlah orang hanya akan tau hasil yang aku dapat. Karena bukankah orang lain hanya melihat hasil yang kita dapat tanpa memperdulikan prosesnya? Iya bukan? Seperti seorang mahasiswa santai yang mendapat nilai A dalam mata kuliah sulit. Dia dipandang mahasiswa lain karena nyontek lah, ngerepek lah, atau apalah. Padahal kita kan gatau apa yang dia lakukan selama ini tanpa sepengetahuan mereka-mereka yang memandang hanya tampak dari luarnya saja.
Kurang lebih seperti itu sifat yang diturunkan ibu ke aku. Kita berdua sama-sama selalu memfilter apa yang perlu dibagi dengan orang lain. Dan apa yang perlu kita keep dan hanya dibagi dengan Allah SWT. Ini prinsip yang bagi sebagian orang dipandang aneh. Tapi bagiku, prinsip ini akan aku pegang selamanya. Dan aku turunkan juga ke anak-anakku nantinya. Semoga diberi kesempatan oleh Allah SWT. Amin.
0 komentar:
Posting Komentar