16 Februari 2015
Aku menulis ini bukan karena aku tak mau mengutarakannya secara langsung, hanya saja, aku belum terlalu kuat mendapat respon darimu.
Sayang, kamu tau tidak? Sekarang aku sedang lemah. Aku butuh bahumu dan pelukanmu. Tapi, entah kenapa aku merasa kamu semakin jauh. Aku tau ini semua juga karena aku. Kita semua tau bahwa tak akan ada reaksi tanpa adanya aksi.
Aku ga nyalahin kamu, hanya saja aku merasa kamu sedikit berubah. Ehm, sepertinya lebih dari sedikit. Mungkin perubahanmu emang karena aku. Aku yang datar dan cuek menjadikan kamu sekarang juga begitu. Aku yang jarang pamit dan cerita hari-hariku, membuat kamupun seperti itu.
Kamu inget ga? Kalo dulu temenku pernah bilang bahwa manisnya pacaran hanya di 3 bulan pertama. Inget ga? Dan kamu jawab bahwa kamu ga percaya. Tapi yang aku sekarang rasain itu emang benar. Gada kata-kata manis yang keluar dari bibirmu. Gada telpon yang berdering saat kantuk melandaku. Dan gada lagi respon tentang tulisan-tulisanku di social media.
Pasti, kamu nganggep aku terlalu kekanakan ya? Terlalu manja? Atau terlalu drama? Iya emang aku seperti itu. Kalo boleh bilang, aku cuma kaget akan perubahan ini. Dulu, bisa dibilang aku orang yang kebal atas ketidakperhatian dari pasangan. Tapi, sejak bertemu kamu, aku merasa menjadi seorang yang diperhatikan. Seorang yang dilihat dan seorang yang didengar. Diantara sepi yang melandaku, kamu datang membawa kebahagiaan tersendiri.
Sejak bersamamu, aku selalu merasa diperhatikan. Selalu merasa ada yang melihat dan mendengar apa yang tak kuperlihatkan dan tak kuutarakan. Aku bahagia menjadi seseorang yang memiliki arti seperti itu.
Aku sudah mulai terbiasa akan hal-hal yang sudah kamu biasakan. Dan sekarang, aku juga mulai membiasakan lagi kebiasaan baru. Biasa tanpa ada respon, biasa tanpa adanya telepon, dan biasa tanpa adanya "I love You" yang katamu harus diucapkan setiap hari.
Pesanku untuk kamu yaang.
"Jangan pernah membiasakan sesuatu yang pada akhirnya kamu tak selalu bisa membiasakan itu".
0 komentar:
Posting Komentar