20 Februari 2015
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Begitulah pepatah berkata.
Dari akhir tahun 2014 lalu, bapak sedang gencar-gencarnya belajar ngaji. Bapak salah satu takmir masjid tapi beliau belum bisa mengaji. Yang dilakukan selama ini ya sekedar membaca tulisan indonesia dibanding arabnya. Nah, dari akhir tahun lalu aku mulai mengajari mengaji. Mulai dari iqro' jilid satu hingga sekarang sudah memasuki halaman akhir iqro' jilid enam. Selain belajar ngaji di rumah bersamaku, bapak juga mengaji bersama bapak-bapak yang lain dengan mendatangkan ustadz. Saat awal mulai belajar ngaji di masjid, banyak yang mengikuti program ngaji tersebut. Tapi semakin kesini dan semakin tinggi tingkatan iqro' yang dipelajari, satu per satu anggota mulai berhenti dengan sendirinya. Hingga suatu hari bapak berkata, "Pak Kamto yang biasanya jadi teman bapak di masjid sekarang sudah nyerah. Katanya sulit". Kira-kira seperti itu kata bapak. Lalu bapak bergumam sendiri bahwa sekarang dia dan ga sampai lima orang yang masih bertahan dan terus berusaha untuk bisa mengaji. Bapak bilang bahwa, "aku itu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Kalo belom bisa ngaji ya terusin. Ga setengah-setengah kaya orang-orang". Aku dan ibu yang mendapat curhatan tersebut hanya bisa tersenyum.
Akupun merasakan hal yang sama saat mengikuti kursus bahasa inggris. Periode awal kursus kehadiran mencapai seratus persen. Namun dipertengahan kursus hanya 40persen yang hadir. Sekarang aku baru sadar, ternyata sifat yang selama ini aku punya ini hasil dari gen bapak. Iya, baru banget sadar. Bapak dan aku sama-sama bukan bukan tipe orang yang mudah menyerah, mudah mengeluh, dan menyelesaikan segala pekerjaan hingga seratus persen.
Terima kasih bapak. Engkau telah menurukanku sifat yang menurutku baik untuk menjalani lika-liku kehidupan. Sifat yang pantang menyerah dan pantang mengeluh adalah sifat yang dari dulu kujunjung tinggi hingga sekarang dan sampai nanti. Dan akan kuturunkan juga kepada anak-anakku kelak.
0 komentar:
Posting Komentar