4 Februari 2015
Yang ku ingat dari sebuah pertemuan pertama adalah bulu mata lentikmu. Iya, bulu matamu yang lentik membuatku terpesona. Saat itu.
Jujur, sampai sekarang pertemuan itu masi menjadi sebuah pertemuan yang istimewa. Kenapa? Karena kamu yang pertama kali membuat otakku memberi perintah kepada jemariku untuk mengetik 'ya' pada seseorang yang hanya berkomunikasi melalui pesan singkat.
Kamu, seorang yang pernah singgah di hatiku. Seorang yang pernah membuat hariku berwarna. Seorang yang pernah membuat bibirku terangkat keatas sebagai tanda kebahagiaan. Sekaligus seorang yang membuat mataku menitikkan air mata sebagai tanda kekecewaan.
Apa kabar kamu? Ku harap seperti kata-katamu dulu bahwa kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Akupun baik-baik saja sekarang. Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku bahagia. Sangat bahagia bersama penggantimu.
Dulu, aku sempat berpikir bahwa aku tak mungkin bisa mendapat kebahagiaan lain selain darimu.
Dulu, aku sempat mengira bahwa hanya kamulah yang membuatku jatuh cinta.
Dulu, aku sempat tidak yakin adanya cinta lagi.
Dulu, aku sempat mengira bahwa hanya kamulah yang membuatku jatuh cinta.
Dulu, aku sempat tidak yakin adanya cinta lagi.
Tapi itu dulu. Sebelum aku berdamai dengan masa lalu. Sekarang ada seseorang hebat yang membuatku kesulitan untuk mengingat kenangan manisku bersamamu. Sungguh, aku sangat kesulitan jika disuruh bercerita kembali tentang kita dulu. Seorang itu benar-benar luar biasa. Dia yang mengajarkanku berdamai dengan masa laluku bersamamu. Bukan seperti kamu, yang menyuruhku pergi darimu. Beruntung aku telah terlepas dari pikiran yang sempat membutakanku selama hampir setahun.
Untukmu kemarinku...
Terima kasih untuk pertemuan manis.
Semanis juice yang kita habiskan.
Dan terima kasih juga untuk perpisahan yang kata orang 'baik-baik'.
Namun menyisakan linangan air matamu...
.
.
.
... di celana jinsku.
Terima kasih untuk pertemuan manis.
Semanis juice yang kita habiskan.
Dan terima kasih juga untuk perpisahan yang kata orang 'baik-baik'.
Namun menyisakan linangan air matamu...
.
.
.
... di celana jinsku.
Regards,
Your ex.
Your ex.
0 komentar:
Posting Komentar