12 Maret 2015
*Sebuah percakapan antara murid dengan Ustadzah*
Murid : Ustadzah, tahun ini saya siap untuk menikah. Tolong dicarikan jodohnya. Saya ingin melaksanakan ta'aruf.
Ustadzah : Ada. Satu orang murid dari Ustadz, dia seorang berperawakan tinggi dan good looking. Ngajinya sudah kitab 4. Pekerjaan mapan. Dia seorang kepala sekolah. Umurnya baru 30tahun. Bagaimana? Kalo iya, saya akan kontak Ustadz untuk mengenalkannya kepada kamu.
Murid : Umur 30tahun?
Ustadzah : Iya. 30 tahun. Tapi, statusnya sudah duda.
Murid : Duda ?!!! Sudah Ustdzah tidak usah dilanjutkan.
Begitu kira-kira cerita seorang teman kepadaku kemarin. Dia bernama olip. Kemarin saat pertemuan bersamanya di sebuah mall untuk merayakan ulang tahun dan sedikit curhat masalah percintaanku, dia juga cerita tentang kisahnya akhir-akhir ini. Dengan penuh tertawa dia menceritakan bahwa dia akan diperkenalkan dengan seorang duda oleh Ustadzah-nya. Dengan lantang dia langsung bilang, tidak!. Karena masalah status si pria itu. Duda.
Bagi olip, status duda adalah masalah nomor satu yang membuat dia menolak. Dia merasa bahwa dia adalah seorang perawan yang sama sekali belum pernah "ngapa-ngapain" dengan lawan jenis, ya masa mau dapat jodoh seorang duda? Dan dia juga berpikir bahwa status duda adalah sebuah cela yang benar-benar tidak bisa ditolerir. Saat dia bercerita kepadaku, dia takut aku akan menertawakannya karena akan diperkenalkan dengan duda. Padahal aku sama sekali tidak tertawa. Senyum-pun tidak. Malah heran. Emang ada yang salah dengan status duda? Toh, dia bukan duda cerai. Kata Ustadzah dia seorang yang agamis. Pekerjaan juga sudah amat sangat mapan. Dia menjadi duda karena ditinggalkan istrinya meninggal dunia yang disebabkan penyakit Liver. Dia juga belum punya anak. Lalu, dimana letak kesalahan dia?
Umur, jodoh dan rejeki manusia tidak ada yang tahu. Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta Alam dan seisinya. Takdir pun. Mana ada seorang yang merencanakan akan menjadi seorang duda/janda. Mana ada juga seorang yang mau ditinggalkan pasangannya itu dan akan merubah statusnya menjadi seorang duda/janda. Tidak ada yang mau. Tapi kalo Allah SWT berkata lain, manusia mau bilang apa selain tetap ikhlas menjalani hidup dan bersyukur dengan keadaan yang terjadi. So, dimana letak kesalahan dia? Karena statusnya duda? Emang ada yang salah dengan duda? Kalo ada bisa sebutin? Temanku diam saat aku bertanya seperti itu. Dia menunduk lalu berpikir. Saat aku memberikan penilaianku terhadap status duda/janda, olip hanya diam dan menyimak. Tapi dia tetap kekeh tidak mau dengan seorang duda. Menurut olip, dia pantas mendapatkan yang lebih baik karena dia masih sangat perawan. Nah, aku cuma bisa menanggapi begini, "Okey dia duda. Tapi belum punya anak kan? Dia juga bukan duda cerai. Ya kalo duda cerai, kamu boleh menghakimi dia. Karena nantinya kita masih akan ada urusan dengan mantan istrinya. Nah ini? Duda meninggal. Ada yang salah? Emang dia mau ditinggal istrinya meninggal? Engga kan? Kamu ga boleh menghakimi orang hanya karena takdirnya seperti itu. Buka mata hatimu. Ya itu sih cuma pendapatku. Kalopun kamu tetap gamau ya terserah. Itu cuma pandanganku". Olip tetap tidak mau. Tapi aku lihat ada binar lain dalam sorot matanya. Seakan mengatakan bahwa dia akan memikirkannya lagi. Dan aku benar-benar ga sabar akan kelanjutan kisahnya. Jadi, temenku ini jadi dapet duda/perjaka yaaa? Haha XD
0 komentar:
Posting Komentar