Senin, 23 Februari 2015

The Power Of "I Love You"

Diposting oleh Unknown di 06.58 0 komentar

23 Februari 2015

Sebuah chat di siang hari:
Him: Ayaang
Me: Iya yaang
Him: Kok datar ya?
Me: Lagi bbm.an (padahal engga!)
Him: Oiya lupa seharian belum bilang.. I love You..
Me: *cuma diread *girang *senyum2 gajelas *bete langsung ilang
Him: ...
Me: I Love You too

Kira-kira seperti itu percakapan siang tadi. Yap. Sempat badmood sama itu orang. Gegara dia yang selalu update sosmed-sosmednya dibanding ngabarin pacarnya. Line cuma diread dan dia sibuk upload foto-foto touringnya kemarin. Bzzt. Hellooo... pacarmu ini butuh kabarmu, butuh perhatianmu, dan butuh ceritamu. Ini malah lagi-lagi followersnya yang dimanjain dengan berbagai upload.an foto. Situ pacaran sama aku apa followers? Eng ing eng..

Tapi dia pintar sekali membuat suasana mencair. Dia tau sekali bahwa pacarnya ini sedang berada dalam suasana hati yang sedang panas. Dan jurusnya berhasil, dia bilang "I Love You" selanjutnya suasana mencair. Bara api langsung padam dan gunung es langsung mencair. Siapa yang ga seneng coba dikasi kata "I Love You". Yaa walaupun kata itu cuma sekedar kata dan terkesan biasa. Namun buat aku itu luar biasa.

Aku menganggap bahwa dengan kamu berkata seperti itu, aku merasa bahwa aku masih menjadi seseorang yang spesial di hatinya dan tentunya ada tempat untuk aku di pikirannya. Sebuah kata yang sarat akan makna dan jika diucapkan akan membuat pendengar menjadi melting.

Aku pernah menulis tentang beberapa perubahan sikap si pacar akhir-akhir ini. Ya salah satunya adalah dia sudah jarang mengucap kata "I Love You" yang pada mulanya dia sendiri yang membuat rule. Rule dimana setiap hari kita berdua harus mengucapkan kata itu.

Beberapa minggu terakhir sudah jarang sekali terdengar. Ditambah lagi dengan chat melalui bbm yang emoticonnya bisa dibilang sangat biasa.  Hubungan sempat monoton dan terkesan membosankan. Hingga suatu waktu kita menggunakan Line kembali sebagai main chat. Entah kenapa isi obrolan jadi menarik lagi dan jauh dari kata jenuh. Mungkin karena banyak sticker lucu di dalamnya. Sticker brown dan cony yang saling memeluk dan mencium membuat suasana chat hidup dan menarik. Dan dia akhirnya tidak lupa lagi dengan rules yang dia buat. Setiap hari ini kita tak lupa mengucap "I Love You" dan aku sangat menikmatinya. Seperti menjadi moodboosterku setiap hari.

Makasih sayang, kamu sudah menghidupkan kembali obrolan kita yang sempat monoton. I Love You So Damn Much. ❤

Kamis, 19 Februari 2015

Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

Diposting oleh Unknown di 20.53 0 komentar

20 Februari 2015

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Begitulah pepatah berkata.

Dari akhir tahun 2014 lalu, bapak sedang gencar-gencarnya belajar ngaji. Bapak salah satu takmir masjid tapi beliau belum bisa mengaji. Yang dilakukan selama ini ya sekedar membaca tulisan indonesia dibanding arabnya. Nah, dari akhir tahun lalu aku mulai mengajari mengaji. Mulai dari iqro' jilid satu hingga sekarang sudah memasuki halaman akhir iqro' jilid enam. Selain belajar ngaji di rumah bersamaku, bapak juga mengaji bersama bapak-bapak yang lain dengan mendatangkan ustadz. Saat awal mulai belajar ngaji di masjid, banyak yang mengikuti program ngaji tersebut. Tapi semakin kesini dan semakin tinggi tingkatan iqro' yang dipelajari, satu per satu anggota mulai berhenti dengan sendirinya. Hingga suatu hari bapak berkata, "Pak Kamto yang biasanya jadi teman bapak di masjid sekarang sudah nyerah. Katanya sulit". Kira-kira seperti itu kata bapak. Lalu bapak bergumam sendiri bahwa sekarang dia dan ga sampai lima orang yang masih bertahan dan terus berusaha untuk bisa mengaji. Bapak bilang bahwa, "aku itu bukan tipe orang yang gampang menyerah. Kalo belom bisa ngaji ya terusin. Ga setengah-setengah kaya orang-orang". Aku dan ibu yang mendapat curhatan tersebut hanya bisa tersenyum.

Akupun merasakan hal yang sama saat mengikuti kursus bahasa inggris. Periode awal kursus kehadiran mencapai seratus persen. Namun dipertengahan kursus hanya 40persen yang hadir. Sekarang aku baru sadar, ternyata sifat yang selama ini aku punya ini hasil dari gen bapak. Iya, baru banget sadar. Bapak dan aku sama-sama bukan bukan tipe orang yang mudah menyerah, mudah mengeluh, dan menyelesaikan segala pekerjaan hingga seratus persen.

Terima kasih bapak. Engkau telah menurukanku sifat yang menurutku baik untuk menjalani lika-liku kehidupan. Sifat yang pantang menyerah dan pantang mengeluh adalah sifat yang dari dulu kujunjung tinggi hingga sekarang dan sampai nanti. Dan akan kuturunkan juga kepada anak-anakku kelak.

Sebuah Kehadiran dan Pelukan

Diposting oleh Unknown di 06.26 0 komentar

19 Februari 2015

Ada yang bilang bahwa "bukan dateng engganya.. tapi ada kabar.. turut berduka.. via telp.." Hey, bukankah saat kita merindukan seseorang dengan hanya berikirim suara via telepon masih ada yang kurang? Nah, ini apalagi menyangkut yang sedang mengalami duka. Ditinggalkan orang tua membuat kita sangat amat merasa sedih. Aku tau gimana sedihnya ditinggalkan orang yang amat berarti, ya walaupun aku belum pernah merasakannya.

Ketika seseorang kesakitan/sedih, kamu ga harus ikut merasakan sakitnya (simpati), tapi harus memahami ia sakit (empati).

Sebuah kehadiran teramat sangat bermakna dikala kita sedang mengalami kesusahan. Datang saat teman merayakan pernikahannya adalah sesuatu yang lumrah. Seperti kita ada disaat orang lain bahagia. Namun, datang disaat teman sedang mengalami kesusahan seperti baru saja ditinggalkan orangtua meninggal adalah salah satu bentuk simpati yang seharusnya dinomorsatukan. Layaknya kita ada disaat orang lain kesusahan.

Jujur, untuk seorang teman aku termasuk tipe yang datang ke undangan pernikahan hanya yang kuanggap kenal baik saja. Untuk yang sekedar "kenal" atau "tau" saja ga aku datangi karena biasanya letaknya luar kota. Karena masih banyak orang yang akan bersuka cita merayakan kebahagiaan mereka. Sedangkan untuk teman yang sedang berduka, aku selalu datang. Selalu dan harus.

Sudah dua kali ini aku ada tepat disaat teman kehilangan orang tuanya. Yang pertama dulu waktu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Namanya zaim. Aku ada di sampingnya saat tau bahwa ibunya telah meninggal. Aku melihat langsung ibunya yang sudah tak bernyawa tepat di depan mata kepalaku sendiri. Dan apa yang aku lakukan? Aku langsung memeluk temanku yang sedang bersedih itu. Kedua, saat sudah duduk di bangku kuliah. Namanya olip. Aku ada saat dia mendapat telepon bahwa ayahnya baru saja meninggal. Lagi-lagi yang kulakukan adalah memeluk temanku. Erat.

Dengan sebuah pelukan, kita seperti menyalurkan energi positif kepada si penerimanya. Seperti kita merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan. Sama-sama berduka, sama-sama sedih, dan sama-sama menangis. Pelukan adalah sebuah obat untuk menguatkan batin seseorang yang sedang terluka. Pelukan juga dibutuhkan bagi seorang yang teramat bahagia. Dengan sebuah pelukan, kita bisa merayakan hal yang menyenangkan bersama-sama.

Itu sebabnya, kenapa aku harus datang dikala teman sedang mengalami duka. Sebuah kehadiran dengan pelukan di dalamnya akan membuat efek seperti,
"Ini loh aku ada untuk kamu. Saat kamu sedih aku ada. Kamu boleh menangis di pelukanku supaya kamu sedikit tenang dan bisa meluapkan emosimu walau sesaat". Sebuah pelukan memberikan ketenangan tersendiri. Seperti kita mengelus punggung seseorang. Akan membawa kita rileks walau sesaat. Itu yang sangat dibutuhkan untuk seorang yang sedang jatuh. Karena buatku, sebuah pelukan adalah penyalur damai hati seseorang sekaligus pelega perasaan yang tak sanggup diungkapkan.

Untuk kekasihku,
"Aku butuh kamu untuk kupeluk saat kacaunya diriku menghadapi cobaan hidup. Dan aku juga butuh kamu untuk kupeluk saat aku merayakan apa yang dapat kuraih dalam hidup".

Selasa, 17 Februari 2015

Hell Yeah Social Media

Diposting oleh Unknown di 07.43 0 komentar

17 Februari 2015

Lucu, ketika kamu bilang "aku hanya guyonan maen social media" saat sebagian besar waktumu kamu habiskan dengan menunduk ke arah gadget.  Sebenarnya aku sama sekali ga masalah. Ya karena memang kerjaan mu mengharuskan kamu selalu update info di grup whatsapp. Tapi pernah ga sih kamu tau yang namanya "quality time" ?

Saat kita sedang hang out bareng. Kamu masih juga mengupdate info di gadgetmu. Bukan. Bukan masalah kerjaanmu. Setelah selesai kamu buka grup kerjaanmu, kamu tak lupa melihat recent update path dan bbm. Itu yang kamu bilang guyonan? Bukankan sebuah guyonan hanya sebagai pengisi waktu luang? Dan aku mulai sadar bahwa yang kamu anggap guyonan itu adalah prioritasmu. Setelah selesai, kamu baru akan menoleh ke arahku. Simpel sih, aku cemburu dengan sosmedmu, yang selalu kamu update dimanapun dan kapanpun kamu berada. Hingga kamu lupa bahwa di sebelahmu ada seseorang yang menunggumu. Menunggumu menoleh ke arahnya dan akan bercengkrama hangat seperti dulu. Saat kita masih hangat-hangatnya pacaran.

Hingga sekarang, aku sudah lupa rasanya ngobrol panjang denganmu. Segala macam topik pembicaraan bisa menjadi panjang. Mungkin memang, sekarang kita memasuki masa hanya memberi kabar semata. Mengucapkan selamat pagi dan bertanya sudah makan atau belum. Atau yang paling jauh "nanti mau kemana?". Hanya itu. Tanpa ada obrolan panjang nan menarik yang mengharuskan mengirim pesan dengan begitu cepatnya. Seperti saat pdkt.

Jujur, aku kangen masa-masa itu. Masa dimana kita saling tak ingat jam yang telah larut hanya karena obrolan panjang dan tawa yang lepas. Aku ga nyalahin atas perubahan sikapmu. Sama sekali ngga. Cuma aku mau kamu menyadari bahwa aku butuh kamu. Aku butuh perhatianmu seperti dulu.

Senin, 16 Februari 2015

Perubahan

Diposting oleh Unknown di 00.45 0 komentar

16 Februari 2015

Aku menulis ini bukan karena aku tak mau mengutarakannya secara langsung, hanya saja, aku belum terlalu kuat mendapat respon darimu.

Sayang, kamu tau tidak? Sekarang aku sedang lemah. Aku butuh bahumu dan pelukanmu. Tapi, entah kenapa aku merasa kamu semakin jauh. Aku tau ini semua juga karena aku. Kita semua tau bahwa tak akan ada reaksi tanpa adanya aksi.

Aku ga nyalahin kamu, hanya saja aku merasa kamu sedikit berubah. Ehm, sepertinya lebih dari sedikit.  Mungkin perubahanmu emang karena aku. Aku yang datar dan cuek menjadikan kamu sekarang juga begitu. Aku yang jarang pamit dan cerita hari-hariku, membuat kamupun seperti itu.

Kamu inget ga? Kalo dulu temenku pernah bilang bahwa manisnya pacaran hanya di 3 bulan pertama. Inget ga? Dan kamu jawab bahwa kamu ga percaya. Tapi yang aku sekarang rasain itu emang benar. Gada kata-kata manis yang keluar dari bibirmu. Gada telpon yang berdering saat kantuk melandaku. Dan gada lagi respon tentang tulisan-tulisanku di social media.

Pasti, kamu nganggep aku terlalu kekanakan ya? Terlalu manja? Atau terlalu drama? Iya emang aku seperti itu. Kalo boleh bilang, aku cuma kaget akan perubahan ini. Dulu, bisa dibilang aku orang yang kebal atas ketidakperhatian dari pasangan. Tapi, sejak bertemu kamu, aku merasa menjadi seorang yang diperhatikan. Seorang yang dilihat dan seorang yang didengar. Diantara sepi yang melandaku, kamu datang membawa kebahagiaan tersendiri.

Sejak bersamamu, aku selalu merasa diperhatikan. Selalu merasa ada yang melihat dan mendengar apa yang tak kuperlihatkan dan tak kuutarakan. Aku bahagia menjadi seseorang yang memiliki arti seperti itu.

Aku sudah mulai terbiasa akan hal-hal yang sudah kamu biasakan. Dan sekarang, aku juga mulai membiasakan lagi kebiasaan baru. Biasa tanpa ada respon, biasa tanpa adanya telepon, dan biasa tanpa adanya "I love You" yang katamu harus diucapkan setiap hari.

Pesanku untuk kamu yaang.

"Jangan pernah membiasakan sesuatu yang pada akhirnya kamu tak selalu bisa membiasakan itu".

Rabu, 11 Februari 2015

Day #13 I Stand By You

Diposting oleh Unknown di 14.17 0 komentar

11 Februari 2015

Untukmu yang masih sendiri,
Jangan pernah menganggap bahwa kamu seorang yang tak pantas untuk dicintai. Tidak, kamu hanya perlu membuka pintu hatimu dan cobalah untuk menerima keadaan. Keadaan bagaimana kita menjalani hidup bahwa tak selamanya apa yang kita mau menjadi nyata. Begitupun soal pasangan. Aku tak menganggap kamu terlalu pemilih. Tapi kamu tau bukan, tak ada yang sesempurna dan tak akan ada seseorang persis seperti yang kamu mau. Maka, bukalah mata dan pintu hatimu.

Untukmu yang sedang patah hati,
Aku tau bagaimana perasaan yang kamu hadapi sekarang. Akupun pernah merasakannya. Mungkin tidak sesakit dirimu. Ya, usia hubungan yang telah menginjak tahun ke delapan dan harus berhenti tanpa ada ending yang membahagiakan adalah suatu hal yang perih untuk dihadapi. Bahkan ribuan helai tisu pun tak akan cukup untuk mengusap air matamu. Tapi kamu tau bukan, bahwa badai pasti akan berlalu. Hujan pasti akan reda. Luka pasti akan sembuh. Begitupun harimu sekarang. Pasti bisa kamu lalui. Dan senyum yang ada diwajahmu, juga akan mengembang di hatimu.

Untukmu yang akan menikah,
Kamu adalah seseorang yang dalam waktu dekat ini akan mengalami kebahagiaan tiada tara. Mimpi terbesar seorang wanita akan kamu dapatkan. Yaitu, menikah. Tapi mengapa kamu selalu bersedih? Muram? Dan merasa bimbang? Coba hilangkan semua perasaan was-was yang ada dalam pikiranmu. Masalahmu dengan (calon) pasanganmu tentang urusan pernikahan yang tak kunjung usai dengan penyelesaian jarak jauh memanglah hal yang sulit. Aku tau itu. Akupun ikut larut dalam kebingungan saat kamu menceritakan semuanya. Tapi sabarlah. Hanya 3 bulan mulai sekarang kamu akan menjadi wanita yang paling beruntung dan bahagia. Yang akan menjadi ratu dalam sehari. Percayakan semua pada pasanganmu. Kalau dia benar jodohmu, maka dia tau apa yang harus dia lakukan untuk semua masalah yang kamu hadapi sekarang.

Untukmu(ku) yang masih mencari pekerjaan,
Aku sebut kita. Iya, kamu dan aku yang masih mencari pekerjaan. Selepas wisuda bukan malah lega, namun kebingungan melanda kita. Aku tau yang kamu rasakan karena aku benar-benar masih ada di fase ini. Kamu yang selalu mengeluh bahwa ijasah yang kamu punya belum juga 'laku'. Kamu yang selalu bilang bahwa kamu sudah cukup stress untuk ini. Akupun. Namun sekalipun aku tak pernah berpikiran seperti itu. Aku hanya berpikir bahwa ini belum waktunya. Bukankah hidup bukan tentang mengeluh. Bukan tentang menyesalkan apa yang kita alami. Dan bukan tentang memaki masalah yang kita hadapi. Bukan itu. Menurutku, hidup itu tentang usaha dan doa. Cobalah kamu hilangkan keluh kesahmu yang tiada henti itu. Gantilah dengan usaha dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta. Mungkin pekerjaan belum datang pada kita. Tapi percayalah, bahwa setidaknya kita telah melegakan hati dan membuka pintu rezeki kita semakin dekat.

Teman-temanku dan aku, mari kita berdamai pada keadaan yang kita alami sekarang. Sekarang akan segera berganti dengan nanti. Kita tidak tau akan apa yang ada di depan kita. Tapi yakinlah bahwa rencana Tuhan tak ada yang tak baik. Marilah kita menggenggam dan saling menguatkan. Kita berjalan bersama menuju cahaya yang akan segera menyinari kita. Dengan mengucap "Bismillahirrohmanirrohim" kita pasti bisa menghadapi ini semua. Amin.

Love you all,
Retno.

Minggu, 08 Februari 2015

Day #11 Yaang ke Sembilan

Diposting oleh Unknown di 16.50 0 komentar

9 Februari 2015

Dear pemilik akun @fendyhertanto,

Selamat tanggal 9 yang kelima bulan. Sebenarnya ganjil kalo tiap bulan bilang ini. Tapi kamu yang memulainya dan aku sangat menikmatinya.

Yaang. Aku mau tanya. Apa rasamu ke aku masi sama kaya waktu awal pacaran? Masih sama, makin nambah, atau mala makin kurang? Aku tanya ini bukan karena aku ga yakin. Engga. Aku cuma makin cinta kamu. Tiap hari. Yaa walaupun aku sering bikin kamu gengges karena mood-ku yang ga jelas.

Yaang. Inget ga waktu awal kita jadian aku bilang kalo aku cemburuan. Iya. Aku cemburuan. Bahkan sama temenmu sendiri. Sekarang keliatan kan? Maafin aku ya.

Yaang. Inget ga waktu itu kamu bilang kalo tiap hari kudu bilang "I love You?". Waktu itu aku heran. Kemudian aku bahagia. Tapi kenapa sekarang uda jarang? Ah, mungkin itu cuma perasaanku.

Yaang. Buat kamu aku orang yang amat sangat labil. Sampe kamu sering bingung sama aku. Mungkin itu bawaan geminian. Tapi kamu tau, cintaku sama kamu ga labil ya. Masih sama dan terus nambah.

Yaang. Ini hari senin tanggal sembilan. Sebentar lagi tanggal empat belas dan itu valentine's day. Inget ga aku minta apa? Aku minta permen sugus rasa nanas. Permintaanku sederhana. Tapi cintaku sama kamu luar biasa.

Yaang. I love you so damn much.

Love,

Retno.

Jumat, 06 Februari 2015

Day #9 Teman?

Diposting oleh Unknown di 12.56 0 komentar

Untuk kamu yang sedang bahagia.

Ingatkah kamu saat butuh aku? Option Ping!!! Bbm sampai jebol kamu kirim ke aku. Kemudian aku datang. Ku tanya "Ada apa?". Jawabmu "Aku butuh bantuin". Dengan sigapnya lalu aku membantu. Tanpa ada yang kupikirkan segera ku berangkat. Lalu apa balasannya? Tidak ada. Tidak. Aku tidak mengharap balasan apapun darimu. Seenggaknya, jangan datang dikala membutuhkanku saja. Setelah apa yang kamu butuhkan selesai, kamu pergi.

Apa itu yang dibilang teman?

Ini loh sebabnya aku selalu tidak percaya akan pertemanan. Belum ada yang benar-benar ada saat sedih pun senang. Semua cuma ada saat ada butuhnya. Untungnya, aku bukanlah yang seperti itu.

Dari seseorang yang kamu anggap "teman baik". Terima kasih.

Rabu, 04 Februari 2015

Day #7 Kekuatan Besar Itu

Diposting oleh Unknown di 16.47 0 komentar
5 Februari 2015

Ada sesak tapi bukan asma.
Ada perih tapi buka maag.
Lantas itu apa?

Kira-kira seperti itulah yang kurasakan sekitar setahun yang lalu. Akupun tak sadar, entah kekuatan darimana aku bisa menggantinya dengan sebuah senyuman yang selalu mengembang di bibirku.

Kamu tau aku begitu kuat karena apa? Karena aku selalu ingat bahwa masih banyak hal yang membahagiakanku dibanding membuatku merasa sedih dan terpuruk.

Aku punya keluarga yang selalu menghangatkanku.
Aku punya teman-teman yang selalu menceriakan hariku.
Dan yang paling penting, aku punya Tuhan yang selalu mengulurkan tangannya untuk kuraih dan kugenggam,  agar aku selalu bisa berdiri tegak.

Aku, manusia dengan begitu banyak keberuntungan dan aku sadar itu. Terima kasih Tuhan, engkau selalu membuatku merasa bersyukur.

Love,
Retno. ❤

Day #6 For The First Time In Forever

Diposting oleh Unknown di 00.52 0 komentar
4 Februari 2015

Yang ku ingat dari sebuah pertemuan pertama adalah bulu mata lentikmu. Iya, bulu matamu yang lentik membuatku terpesona. Saat itu.

Jujur, sampai sekarang pertemuan itu masi menjadi sebuah pertemuan yang istimewa. Kenapa? Karena kamu yang pertama kali membuat otakku memberi perintah kepada jemariku untuk mengetik 'ya' pada seseorang yang hanya berkomunikasi melalui pesan singkat.

Kamu, seorang yang pernah singgah di hatiku. Seorang yang pernah membuat hariku berwarna. Seorang yang pernah membuat bibirku terangkat keatas sebagai tanda kebahagiaan. Sekaligus seorang yang membuat mataku menitikkan air mata sebagai tanda kekecewaan.
Apa kabar kamu? Ku harap seperti kata-katamu dulu bahwa kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Akupun baik-baik saja sekarang. Tidak, aku tidak baik-baik saja. Aku bahagia. Sangat bahagia bersama penggantimu.

Dulu, aku sempat berpikir bahwa aku tak mungkin bisa mendapat kebahagiaan lain selain darimu.
Dulu, aku sempat mengira bahwa hanya kamulah yang membuatku jatuh cinta.
Dulu, aku sempat tidak yakin adanya cinta lagi.

Tapi itu dulu. Sebelum aku berdamai dengan masa lalu. Sekarang ada seseorang hebat yang membuatku kesulitan untuk mengingat kenangan manisku bersamamu. Sungguh, aku sangat kesulitan jika disuruh bercerita kembali tentang kita dulu. Seorang itu benar-benar luar biasa. Dia yang mengajarkanku berdamai dengan masa laluku bersamamu. Bukan seperti kamu, yang menyuruhku pergi darimu. Beruntung aku telah terlepas dari pikiran yang sempat membutakanku selama hampir setahun.

Untukmu kemarinku...
Terima kasih untuk pertemuan manis.
Semanis juice yang kita habiskan.
Dan terima kasih juga untuk perpisahan yang kata orang 'baik-baik'.
Namun menyisakan linangan air matamu...
.
.
.
... di celana jinsku.

Regards,
Your ex.

Selasa, 03 Februari 2015

Day #5 My Future Husband

Diposting oleh Unknown di 15.32 0 komentar
3 Februari 2015

To: My Future Husband

Hello, good morning..
 
How are you today? Great?
I may don't know who you are and where you are, but I just want to make sure that you will never give up to find me.
Because I'll be waiting for you here.
I love you :)

From: Your Future Wife

Senin, 02 Februari 2015

Day #4 Prince Charming in My Childhood

Diposting oleh Unknown di 06.34 0 komentar
2 Februari 2015

Hallo Prince Charming di masa kecilku..

Aku masih ingat betul bagaimana kita bertukar crayon untuk mewarnai buku bergambar. Aku juga masih ingat bagaimana kita bermain hujan dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Berlarian dari satu gang ke gang lain dengan tawa riang. Dan aku juga masih sangat ingat bagaimana kamu mengusir laba-laba yang mengangguku dengan keberanianmu.

Setelah kepindahan itu, kita sama sekali lost contact. Sama sekali tak pernah bertatap muka lagi. Hingga saat aku mengingatmu, hanya terlintas samar-samar wajah dengan tahi lalat dekat bibir. Itu kamu.

Kamu, masihkah mengingatku? Ah, kurasa kamu pasti lupa. Karena aku hanya bagaikan goresan diatas pasir pantai, yang akan hilang seiring dengan datangnya ombak.

Regards,
Yang akan selalu mengingat masa kecil kita.
 

A Piece of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review