Rabu, 18 Maret 2015

(Satu Lagi) Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohon

Diposting oleh Unknown di 06.04 0 komentar

18 Maret 2015

Me : lho, tangane ibuk kok kosongan? Tumben?
Ibuk : hoalah jeeenggg .. ibuk mari kene gendam ..
Me : *lemes

Di pagi hari saat aku berangkat kerja, bapak juga pergi keluar. Pergi ke dokter tht untuk memeriksakan telinganya yang sedang sakit. Ibu sendirian di rumah. Seperti biasa, memasak dan mengurusi pekerjaan rumah yang lain. Saat itu, ada seseorang bapak-bapak tiba-tiba masuk rumah. Langsung masuk ke dalam rumah karena memang kalau pagi, pagar selalu terbuka. Ditanya ibu ada apa dan dia menjawab mau menanyakan alamat. Setelah basa-basi akhirnya pergilah dia. Dan saat itu ibu baru sadar kalau gelang yang selalu dipakai sudah tidak ada. Lalu ibu ingat bahwa gelangnya diminta bapak yang tanya alamat tadi. Ibu tidak sadar telah "dengan sengaja" melepas gelang yang setiap hari selalu dipakai, karena memang bagi ibu itu gelang tidak seberapa mahal dan pas untuk dipakai sehari-hari. Tapi gimanapun ibu bilang "tidak seberapa mahal" ibu terlihat sangat sedih saat bercerita. Dan memang gelang itu yang paling disayang ibu dari perhiasan yang lainnya.

Me : ibuk kok ga cerito aku se? Meneng-meneng ae. Mbak ambe mas ngerti?
Ibu : lho. Lapo ibuk cerito-cerito iku? Nambah-nambahi pikiranmu ae. Wong mari kerjo iku mesti kesel e. Mosok ibuk nambah-nambahi pegel ae.
Me : laaahhhh -___-
Ibu : ibu yo ga cerito nang wong-wong. Iyo lek wong seneng kene, lek ga seneng lak malah ngapokno. Yowes aku meneng ae jeng.

Ini. Ini yang jadi prinsipku selama ini. Bahwa cerita sedih selalu aku keep dan hal tertentu baru aku share. Tapi juga bukan berati harus pamer terhadap kebahagiaan. Hanya saja aku selalu menfilter apa yang perlu di-share dan apa yang tidak perlu. Seperti ibu. Ibu tidak menceritakan kejadiaan buruk yang telah menimpanya, dia keep sendiri. Sampai ada yang tanya, lalu dia menjawab. Bagi ibu (dan bagiku), dengan kita bercerita tentang musibah yang menimpa kita, untuk sebagian orang yang benar-benar peduli, hanya akan menambah pikiran orang tersebut. Ibu dan aku tidak suka hal itu. Hal dimana kita semakin menambah pikiran orang lain dengan musibah yang kita alami. Dan bagi sebagian orang yang tidak peduli atau bahkan tidak suka akan kita, mereka akan bersyukur akan musibah yang menimpa kita. Itu kenapa aku selalu keep musibah. Ibu pun. Aku baru sadar (lagi) prinsip yang selalu aku pegang ini adalah turunan dari ibu. Alhamdulillah.

Mungkin karena prinsip tersebut, aku selalu dipandang orang hidup dalam keadaan santai, selalu bahagia, dan tak ada usaha. Aku pernah mendapat kata-kata (kurang lebih) seperti ini." Usaha yang kamu lakukan itu kurang. Aku dulu bela-belain pergi ke kfc cuma buat numpang wifi buat ngirim email lamaran kerja". Laaahhh.. kalau aku mau cerita, paket pulsa internet yang seharusnya cukup untuk pemakaian satu bulan, aku habiskan hanya dalam waktu dua minggu. Kenapa? Karena aku sering menyambungkan internet dari ponsel ke laptop melalui therethering and portable untuk meng-update info lamaran kerja di internet dan juga mengirim email melalui jaringan tersebut. Nah, kalau aku sudah bisa memanfaatkan teknologi yang aku genggam di rumah, apa perlu aku lari-lari ke kfc untuk numpang wifi? Engga kan?. Aku tidak pernah menceritakan bagaimana usahaku di rumah, karena bagiku memang tidak perlu. Biarlah orang hanya akan tau hasil yang aku dapat. Karena bukankah orang lain hanya melihat hasil yang kita dapat tanpa memperdulikan prosesnya? Iya bukan? Seperti seorang mahasiswa santai yang mendapat nilai A dalam mata kuliah sulit. Dia dipandang mahasiswa lain karena nyontek lah, ngerepek lah, atau apalah. Padahal kita kan gatau apa yang dia lakukan selama ini tanpa sepengetahuan mereka-mereka yang memandang hanya tampak dari luarnya saja.

Kurang lebih seperti itu sifat yang diturunkan ibu ke aku. Kita berdua sama-sama selalu memfilter apa yang perlu dibagi dengan orang lain. Dan apa yang perlu kita keep dan hanya dibagi dengan Allah SWT. Ini prinsip yang bagi sebagian orang dipandang aneh. Tapi bagiku, prinsip ini akan aku pegang selamanya. Dan aku turunkan juga ke anak-anakku nantinya. Semoga diberi kesempatan oleh Allah SWT. Amin.

Jumat, 13 Maret 2015

Tentang Operasi Kecil Pertamaku

Diposting oleh Unknown di 06.47 0 komentar

14 Maret 2015

Bangun pagi, sama sekali tak menyangka dan tak merencanakan untuk jumat kemarin. Pulang kerja tiba-tiba disuruh ibu untuk pergi ke dokter gigi. Aku punya gigi dengan lubang yang amat sangat parah. Geraham kiri bawah, letak gigi lubangku yang sudah tak memiliki mahkota. Sudah parah memang. Makanya ibu nyuruh segera untuk dicabut.

Saat sampai di klinik dokter gigi. Dokter yang menanganiku dokter masih muda nan ganteng. Dokter yang biasa merawat ortho-ku. Orangnya sabar dan perhatian. Tapi saat dilihat gigiku, dokter bilang bahwa harus diadakan "operasi kecil" untuk mencabut gigiku. Langsung kaya disamber petir. Bayangin aja, operasi kecil. Seumur-umur yang namanya opname aja belum pernah. Nah ini mala suru operasi kecil. OMG. Untung pas berangkat ditemenin ibu. Ya karena emang sangat takut untuk pergi ke dokter gigi.

Setelah menimbang-nimbang selama hampir setengah jam. Dijelasin ini itu resikonya. Sakitnya bakalan kaya gini dan gitu. Aku juga curhat masalah traumaku saat cabut gigi dulu. Si dokter juga janji bakalan dengan cara "halus" saat mengoperasiku. Akhirnya surat pernyataan untuk operasi aku tanda tangani. Dan persiapan untuk operasi kecil pencabutan gigi dimulai.

Seingetku, saat mataku masih terbuka, ada dua obat bius yang akan disuntikkan. Saat itu aku masih sanggup untuk membuka mata melihat jarum suntik beserta obat bius yang dipersiapkan. Sambil terus baca sholawat untuk menenangkan diri. Pertama kali yang dilakukan dokter adalah mengoles semacam salep ke gigiku yang lubang hingga ke gusinya. Ditunggu ada satu menit sampe merasa tebal sedikit. Lalu dimulailah penyuntikan obat bius yang pertama. Nah, ini aku sudah mulai merem dan si dokter selalu bilang rileks agar semua berjalan lancar. Saat sudah ditancapkan ke gusi dan obat dimasukkan, baru kerasa semacam digigit semut tapi di gusi. Selesai satu masih ada lagi obat bius yang akan disuntikkan. Kupikir hanya dua yang disuntik, ternyata ada empat kali suntikan bius. Setelah nunggu beberapa menit, akhirnya setengah dari bibir dan lidah berubah rasa menjadi tebal, getir, dan seperti kesemutan. Udahlah rasanya kaya bengkak. Berkali-kali bilang "ini rasae kok bengkak si dok?" dan si dokter cuma bilang "engga ga bengkak. ini wes kamu ngaca" dokter ngasi cermin dan emang ga bengkak.

Proses pembiusan selesai. Dimulai dengan proses pemecahan gigi. Ini digunakan alat semacam tang. Gatau deh alat apa, yang jelas mulai awal dibius sampai akhir aku cuma merem ga berani liat apa-apa. Sekalinya melek cuma pas disuruh kumur. Semacam tang mulai dimasukkan dan ditekan di gigiku yang lubang hingga bunyi "krek" pertanda gigiku udah pecah. Aku diem dan terus sholawat. Lalu dimasukkan lagi tang namun lebih kecil kepalanya, ini bagian pencabutan pertama karena gigiku ternyata pecah menjadi tiga bagian. Saat alat masuk, mulai ada tekanan dan mulai terasa ngilu. Dokter juga bilang,"ini mulai saya tekan ya. kalau sakit bilang". Dan aku cuma mengangguk. Ditekanlah alat itu ada beberapa saat, digoyang kanan kiri lalu dicabut. "Nah ini sudah keluar satu". Aku menghela napas. Dimasukin lagi alatnya, ditekan lagi. Ini yang agak sakit sampai aku merintih. Dokter cuma bilang," rileks. Kurang sedikit sudah". Aku mencoba merilekskan diri dan menahan rasa sakitku. Dan terasa lagi seperti gigi telah diambil. Dokter bilang,"sudah. Ayo melek wong sudah kok. Ga sakit kan?". Lalu aku membuka mata dan melihat si dokter. Tenang. Lalu dokter dengan sabar membersihkan darah-darahku yang sampai keluar dari mulut. Iya, sampai seperti "ngiler" tapi aku sama sekali ga kerasa karena bibirku tebel kena bius. Saat bagian dalam yang dibersihkan darahnya, ternyata dokter masih merasakan hal aneh dalam gigiku. Seperti masih ada gigi di dalam gusiku. Dan benar, setelah dilihat lagi, ternyata aku punya tiga akar gigi. Lalu dimasukkan lagi alat untuk mengambil potongan akar gigi ketigaku. Ini yang paling berasa tekanan dan ngilunya. Sangat amat ngilu waktu proses pencabutan. Dan saat keluar, gigi yang terakhir ternyata semacam bengkok. Makanya rasanya beda dari yang tadi. Ngilunya mana tahan.

Setelah semua gigi selesai dicabut dan sudah berkumur. Lalu dilakukan proses penjahitan. Seumur-umur belom pernah yang namanya jatuh lalu dijahit. Di tangan, atau di kaki belum pernah. Ini malah di gusi. Langsung lemes liat benang yang dikeluarkan dan dimainin sama si dokter. "Dijahit ya. Cuma dua jahitan. Ga sakit kok ini. Aku juga pernah, mala dulu dijahit temenku waktu praktek". Aku pikir dua jahitan itu cuma masukin jarum, tarik benang, masukin lagi, tarik benang lagi beres. Ternyata prosesnya lama. Kaya berasa empat kali jahitan tapi bener kata dokter sama sekali ga sakit. Cuma ada rasa geli saat benang di tarik. Proses selesai, suruh kumur lagi. Daaaaannn saat aku kumur banyak darah berceceran langsunglah nggeliyeng kepalaku karena memang aku takut akan darah. Lemes dan keringet dingin. Padahal operasinya berjalan lancar dan tak ada efek bengkak di pipiku. Cuma gara-gara liat darah dari kumurku, langsung lemes. Ditambah lagi sama si dokter yang agak usil diliatin gigi yang udah dicabut dan masih buanyak darahnya di depan mataku langsung. Duh wes ga karu-karuan.

Saat sudah selesai. Ibu dan mbak baru masuk untuk dijelasin bagaimana proses perawatan dan pemulihan seelah proses ini. Prosesnya banyak, obatnyapun juga banyak. Yang paling aku inget adalah tak boleh makan panas dan pedes. Suruh banyak makan es krim dan yang dingin-dingin. Padahal aku kalo ga pedes, makanan jadi eneg. Bzzt. Minum es krim pun gabole rasa coklat. Lah padahal yang vanilla kan eneg dokter :(. Selesai penjelasan lalu pergilah aku ke apotik untuk menebus obat. Iya aku dewe yang ke apotik lalu ke indomart beli es krim. Entah ya, setelah keluar ruangan dan si dokter menepuk punggungku sembari bilang," gimana? Ga sakit kan? Wong masih bisa senyum gitu kok. Pokoknya sehat. Senin kesini lagi lepas jahitan". Saat itu juga aku langsung seger. Lemes gara-gara darah langsung ilang. Jadi kuat dan bisa senyum-senyum lagi. Bisa gonceng ibuk juga buat ke apotik, indomart lalu baru pulang.

Oiya, aku baru tau kalo biasa operasi pencabutan gigi itu sampai 1,5jt. Aku pikir range harganya cuma 400-800rb. Buset dan ternyata sampe segitu. Untung di-atm masi ada simpenan. Tapi begitu ditransfer ke dokternya, atmku kasian langsung kembang kempis. Padahal itu duit ngumpulinnya ngos-ngosan. Secara aku masih nganggur abis wisuda. Fiuh. Sangat amat menguras atm. Belum lagi buat nebus obat. Duit di dompet langsung amblas. Ini kalo ga demi kesehatan ga berangkat deh.

Buat kamu-kamu yang punya gigi lubang. Jangan sampai kaya aku. Gigi uda ilang mahkota baru dicabut. Ngilu waktu dicabutnya itulo yang bikin trauma. Udahlah pokoknya kesehatan dijaga. Mahal cyin. :"(

Kamis, 12 Maret 2015

Ada yang Salah dengan Status?

Diposting oleh Unknown di 05.11 0 komentar

12 Maret 2015

*Sebuah percakapan antara murid dengan Ustadzah*
Murid : Ustadzah, tahun ini saya siap untuk menikah. Tolong dicarikan jodohnya. Saya ingin melaksanakan ta'aruf.
Ustadzah : Ada. Satu orang murid dari Ustadz, dia seorang berperawakan tinggi dan good looking. Ngajinya sudah kitab 4. Pekerjaan mapan. Dia seorang kepala sekolah. Umurnya baru 30tahun. Bagaimana? Kalo iya, saya akan kontak Ustadz untuk mengenalkannya kepada kamu.
Murid : Umur 30tahun?
Ustadzah : Iya. 30 tahun. Tapi, statusnya sudah duda.
Murid : Duda ?!!! Sudah Ustdzah tidak usah dilanjutkan.

Begitu kira-kira cerita seorang teman kepadaku kemarin. Dia bernama olip. Kemarin saat pertemuan bersamanya di sebuah mall untuk merayakan ulang tahun dan sedikit curhat masalah percintaanku, dia juga cerita tentang kisahnya akhir-akhir ini. Dengan penuh tertawa dia menceritakan bahwa dia akan diperkenalkan dengan seorang duda oleh Ustadzah-nya. Dengan lantang dia langsung bilang, tidak!. Karena masalah status si pria itu. Duda.

Bagi olip, status duda adalah masalah nomor satu yang membuat dia menolak. Dia merasa bahwa dia adalah seorang perawan yang sama sekali belum pernah "ngapa-ngapain"  dengan lawan jenis, ya masa mau dapat jodoh seorang duda? Dan dia juga berpikir bahwa status duda adalah sebuah cela yang benar-benar tidak bisa ditolerir. Saat dia bercerita kepadaku, dia takut aku akan menertawakannya karena akan diperkenalkan dengan duda. Padahal aku sama sekali tidak tertawa. Senyum-pun tidak. Malah heran. Emang ada yang salah dengan status duda? Toh, dia bukan duda cerai. Kata Ustadzah dia seorang yang agamis. Pekerjaan juga sudah amat sangat mapan. Dia menjadi duda karena ditinggalkan istrinya meninggal dunia yang disebabkan penyakit Liver. Dia juga belum punya anak. Lalu, dimana letak kesalahan dia?

Umur, jodoh dan rejeki manusia tidak ada yang tahu. Semua sudah diatur oleh Sang Pencipta Alam dan seisinya. Takdir pun. Mana ada seorang yang merencanakan akan menjadi seorang duda/janda. Mana ada juga seorang yang mau ditinggalkan pasangannya itu dan akan merubah statusnya menjadi seorang duda/janda. Tidak ada yang mau. Tapi kalo Allah SWT berkata lain, manusia mau bilang apa selain tetap ikhlas menjalani hidup dan bersyukur dengan keadaan yang terjadi. So, dimana letak kesalahan dia? Karena statusnya duda? Emang ada yang salah dengan duda? Kalo ada bisa sebutin? Temanku diam saat aku bertanya seperti itu. Dia menunduk lalu berpikir. Saat aku memberikan penilaianku terhadap status duda/janda, olip hanya diam dan menyimak. Tapi dia tetap kekeh tidak mau dengan seorang duda. Menurut olip, dia pantas mendapatkan yang lebih baik karena dia masih sangat perawan. Nah, aku cuma bisa menanggapi begini, "Okey dia duda. Tapi belum punya anak kan? Dia juga bukan duda cerai. Ya kalo duda cerai, kamu boleh menghakimi dia. Karena nantinya kita masih akan ada urusan dengan mantan istrinya. Nah ini? Duda meninggal. Ada yang salah? Emang dia mau ditinggal istrinya meninggal? Engga kan? Kamu ga boleh menghakimi orang hanya karena takdirnya seperti itu. Buka mata hatimu. Ya itu sih cuma pendapatku. Kalopun kamu tetap gamau ya terserah. Itu cuma pandanganku".   Olip tetap tidak mau. Tapi aku lihat ada binar lain dalam sorot matanya. Seakan mengatakan bahwa dia akan memikirkannya lagi. Dan aku benar-benar ga sabar akan kelanjutan kisahnya. Jadi, temenku ini jadi dapet duda/perjaka yaaa? Haha XD

Senin, 09 Maret 2015

Happy Birthday, Olip!

Diposting oleh Unknown di 01.57 0 komentar

9 Maret 2015

Hari ini adalah hari bahagia seorang teman dekatku. Dia berulang tahun yang ke-24 tahun. Tapi sayang, kita tidak jadi bertemu karena aku sibuk dengan urusan rumah dan persiapan untuk besok. Maaf buat olipo. Rabu kita ketemu. Aku bakalan bawa sesuatu yang buat kamu seneng. Promise!

Selamat ulang tahun, kawanku. Semoga segala doa baik dikabulkan Allah SWT. Semoga apa yang kamu inginkan dari pertengahan tahun 2012 segera disegerakan Allah SWT. Yaitu menikah. Semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang mirip Zayn Malik. Akhlaknya kaya Alm. Uje. Syukur-syukur kalo dikasi yang tajir kaya Om Bob. Haha. Amin. Apapun itu aku cuma bisa berdoa yang terbaik buat kamu. Ngeliat kamu seneng, akupun.

Inget waktu kita ngejar yudisium agustus 2014 kemaren? Gimana perjuangan kita lari-larian ngejar dosen. Gimana perjuanganmu yang lebih dari aku. Aku masih ingat betul gimana keringetannya kamu nunggu dosen sampe sore. Sampe kita kelaparan dan ngantuk bareng. Sampe ruangan dosen sepi. Sampe mbak satpam bilang "ga pulang aja mbak?" Karena emang uda terlalu sore kita disana. Gimana kamu ngos-ngosannya saat aku bilang "cepetan! Bu rinta ada di ruang dosen!" Gimana gelisahnya kamu saat tanggal penetapan SPK semakin dekat sedangkan kamu baru saja sidang. Dan yang paling kuingat adalah saat kamu telfon aku bahwa kamu akhirnya lulus Toefl walaupun hasilnya mepet. Semua orang tau aku menangis haru. Beneran aku nangis sampe anggun bilang "ya ampun retno nangis rek!!". Gimana ga mau nangis, aku yang bahasa inggrisnya pas-pasan ngajari Toefl seadanya cuma biar kamu bisa lulus bareng. Dan setelah 8x tes Toefl baru dinyatakan lulus. Bukan kamu kan yang nangis seneng, tapi aku.

Sekarang kita sama-sama tau bahwa kita sama-sama lulus. Sama-sama susah dari semester awal. Dan wisuda dihari yang sama. Entah, aku takut bilang kamu adalah sahabat yang terbaik buat aku. Karena setiap seorang yang aku bilang sahabat, mereka selalu hilang. Biarlah pertemanan kita ini hanyalah sebuah teman yang dekat. Bukan lebih. Tapi sampai nanti. Sama seperti yang sering aku ucapkan padamu. "Kita temenan aja. Gosah jadi sahabat. Tapi insya Allah sampe nanti". Dan kamu meng-iyakan kata-kataku.

Olip. Terima kasih kamu sudah ada dimasa aku sedang seneng pun sedih. Sudah dua kali ini saat aku menangis yang kucari kamu. Dan yang kuhampiri kamu. Ingat waktu dulu? Saat aku cerita tentang mantan pertamaku. Kamu menangis di KFC karena aku benar disakiti mantanku dan keluarganya. Tapi sekarang kamu jangan nangis lagi. Karena putusku yang sekarang bukan aku yang disakiti. Tapi aku yang menyakiti. Terima kasih juga saat aku menyalahkan diriku sendiri, kamu bisa membesarkan hatiku. Hingga aku tak terlalu merasa bersalah dan menyesal. Besok saat ketemu, aku sangat menunggu wejangan dari kamu. Wejangan yang bikin aku adem. Wejangan yang dulu bikin aku kuat. Kamu itu seperti guru agama buat aku. Tiap kali aku bingung sesuatu tentang agama, kamu datang dan memberi penjelasan. Saat aku bingung akan sesuatu, kamu ngasi pendapat dari sisi lain. Kamu bijak tapi kamu juga bisa diajak gosip bareng. Tiap kali kita ketemu bareng, ga jauh-jauh dari gosipin orang. Haha. Itu sama sekali bukan perbuatan yang baik. Mari kita kurangin. Ya. Kurangin aja jangan diilangin. Karena itu bumbu.

Ngomong-ngomong panjang juga tulisanku kali ini. Sebelum aku sudahi, aku cuma mau berharap bahwa pertemanan kita semoga sampai nanti. Kita jaga bener biar impian kita buat arisan bareng sambil bawa anak bisa beneran dikabulkan Allah SWT. Sekali lagi selamat ulang tahun, kawanku.

Jumat, 06 Maret 2015

Sedih dan Seneng itu Sepaket!

Diposting oleh Unknown di 16.16 0 komentar

7 Maret 2015

Hari dimana seorang teman sedang bergelut dengan masalahnya dan menumpahkan semua masalahnya kepadaku, ialah hari dimana aku juga sedang mengalami masalah dengan kekasihku. Aku sangat amat menjadi seorang teman yang baik dengan mendengarkan berbagai macam keluh kesah seorang teman. Dari pagi hingga malam dan memasuki pagi lagi. Hari dimana aku juga sedang bingung dengan kelanjutan hubunganku. Tapi aku sama sekali tidak menomorsatukan kepentinganku. Karena aku pikir, masalahku tidak ada apa-apanya dibandingkan temanku yang hampir batal menikah. Sedangkan aku? Hanya masalah putus cinta. Di usia yang baru lima bulan menjalaninya.

Disebut aku egois. Ya, memang aku egois dalam hal percintaanku dengan pasanganku. Tapi aku bukan seorang yang egois dalam menghadapi temanku. Aku selalu mendahulukan kepentingan mereka di atas kepentinganku. Tapi, masih saja orang berkata aku egois.

Kuakui memang aku egois. Karena sifat itulah aku dan mantanku yang terakhir setuju memutuskan hubungan. Karena aku belum bisa ikhlas menerima sifat dan serentetan hobi berpetualangnya. Dan dia pun belum bisa menerima aku dan semua sifat kegoisanku - yang sebenarnya bisa ku potong jika ku mau -. Sudah kutawarkan jika aku bisa memotong egoku, namun katanya tetap tak bisa. Ya, daripada semua menjadi tekanan batin saat menjalani hubungan, sebaiknya disudahi hubungan yang baru seumur jagung ini.

Sedih? Jelas sedih. Aku sudah mulai sayang dan jatuh cinta dengannya. Dengan segala perhatian dan ketertarikanku padanya, dia membuatku yang awalnya biasa-biasa saja hingga menjadi mencintainya. Tapi, aku sadar bahwa niat awalku menerima dia sebagai pacar bukanlah semata-mata karena aku suka dan karena Allah. Melainkan harena hartanya. Itu bukan niat yang baik bukan saat mengawali sebuah hubungan? Dan alasan itulah yang membuatku sekarang sadar dan tak terlalu jatuh dalam lubang keterpurukan patah hati.

Satu hari hingga dua hari setelah hubunganku berakhir, tidurku sama sekali tidak nyenyak. Ada sesak di dalam dada. Ada perih dalam perut. Tapi itu semua bukan karena ashma ataupun maag. Ya karena masalah putus cinta. Saat aku mengalami itu semua, sialnya aku sedang ada diperiode bulanan. Mau curhat sama Allah terhadang karena belum suci. Dan Alhamdulilah keesokan harinya sudah bisa melaksanakan mandi besar dan akhirnya sholat. Kutumpahkan segala rasa sesalku, rasa salahku, dan curhatanku kepada Allah. Kuminta pertolonganNya serta bantuanNya, agar aku bisa ikhlas menghadapi kenyataan perih ini. Dan bisa berdamai dengan keadaan yang kualami sekarang. Lega. Walau dada masih terasa sesak. Lalu saat malam menjelang, sebelum tidur kuberdoa untuk diberikan tidur yang nyenyak, dihilangkan semua beban di dada, dilapangkan dadaku, dibesarkan hatiku, dan dibukakan pikiranku saat bangun. Dan alhamdulilah atas kuasa Allah SWT, aku bangun dengan dada yang tak terasa sesak lagi. Kuasa Allah memanglah luar biasa.

Satu hari dimana di pagi harinya aku menangis tersedu-sedu hingga sesenggukan di kamar. Menghabiskan banyak tissue. Ialah satu hari dimana aku merasakan kebahagian. Sorenya aku mendapatkan kabar bahwa aku adalah salah satu seorang yang beruntung yang lolos memasuki tahapan interview user di rekrutmen adp bank BNI. Alhamdulilah. Atas kuasa Allah, yang paginya aku menangis sedih, sorenya menangis bahagia. Karena memang dalam hidup ini yang namanya sedih dan seneng itu sepaket. Kalau sekarang aku sedang sedih memikirkan nasib kejombloanku, kita tidak tau kan di depan nanti akan ada pangeran yang menjemputku dengan kereta kuda. Sembari aku menunggu pangeranku, aku akan memperbaiki diriku. Agar aku bisa membahagiakan seseorang yang nantinya juga akan membahagiakanku. Aamiin.

 

A Piece of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review