Orang banyak melihat Bapak sebagai orang yang disegani, serius dan tegas dalam mendidik keluarga tapi sebenarnya Bapak orang yang lembut, romantis dan kadang suka usil. Bapak selalu mendidik dengan cara yang disiplin, tidak banyak bicara, dan membiarkan anak gadisnya mandiri (walaupun sebenarnya Ibu tahu bahwa saya anak yang sangat teledor). Kadang saya suka cemberut melihat tingkah Bapak yang selalu terkesan kaku, tapi saat jalan berdua saja dengannya (ini kejadian langka dalam hidup saya) beliau seperti anak muda yang masih senang akan tantangan. Beliau mengajarkan saya cara menikmati secangkir teh hangat, beliau juga mengajarkan (secara tidak langsung, mengajak) memasak, mengajarkan cara berpikir kritis, menikmati hidup dan cara melihat hidup dengan cara sederhana.
Di usianya yang sudah pensiun banyak hal yang masih diperjuangkannya termasuk masalah financial keluarga yang masih dipikir keras olehnya, tujuannya jelas, membawa saya hingga tamat dari bangku perkuliahan lalu berangan menikmati hidupnya bersama Tuhan dan alam. Itu tujuannya untuk 3 tahun ke depan ini. Harus berjuang keras di usia senjanya demi menopang kebutuhan saya yang notabene untuk seorang anak perempuan yang memilih kuliah daripada bekerja. Beberapa tahun belakangan ini, saya telah berani mengungkapkan rasa cinta saya kepada sang Bapak. Sekali-kali terkesan agak romantis agar hatinya sedikit luluh dan berharap rambut di kepalanya tidak menjadi putih semua 27 Desember lalu saat Bapak telah menginjak usia 62 tahun, saya hanya bisa mengucapkannya “Selamat Ulang Tahun” secara langsung dan memberikannya kue bertuliskan angka 26 (biar tetap terlihat anak muda). Saya harap semua keinginan Bapak, 3 tahun lagi beliau dapat menikmati usia senjanya dengan bebas. Menikmati pagi hangat di hutan bersama kicau burung dan memancing setiap hari. Semoga semua segera terwujud.

0 komentar:
Posting Komentar