Kamis, 30 Juni 2011

Sebuah kedewasaan

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 07.08 0 komentar

Dulu saat seorang teman bertanya, “Apa sih yang dimaksud dengan dewasa? Dan sikap bagaimana yang menunjukan dewasa?”. Saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan mudah tanpa banyak berpikir. “Dewasa itu berarti bisa berpikir luas, berpikir jauh kedepan. Yang berarti harus bersikap dewasa.”

Namun sekarang jawaban saya atas pertanyaan itu membuat saya harus merenungkannya lagi. Dewasa itu adalah lawan dari kanak-kanak atau bersikap kekanak-kanakan. Dewasa itu tidak dilihat dari umur seseorang. Seperti kata slogan iklan, “Jadi tua itu pasti, jadi dewasa itu pilihan!”

Jadi apa sesungguhnya pengertian dewasa itu sendiri? Memberikan jawaban seperti itu memang mudah, walaupun kalau dibahas lebih dalam mungkin malah mengaburkan arti dewasa itu sendiri. Dewasa itu pilihan, artinya kita bisa memilih bersikap dewasa atau tidak. Dan seperti apa sikap dewasa itu?

Semakin bertambah umur kita, semakin banyak tanggung jawab yang harus dipikul. Anak kecil tidak usah berpikir untuk hidup. Mereka hanya menjalani hidup. Mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan tanpa banyak bersusah payah untuk mencapainya. Tanpa berpikir untuk hidup pun, mereka sudah hidup.

Orang dewasa harus berpikir untuk hidup. Mereka harus berusaha keras memenuhi kebutuhan untuk hidup. Dewasa berarti tanggung jawab. Lebih dari itu, orang dewasa harus bertahan hidup dalam berbagai keadaan. Bertahan ketika susah, bertahan pula ketika senang. Dan apa yang bisa membuat bertahan dalam segala keadaan? Kondisi seperti ini hanya bisa dilalui dengan menerima kenyataan dan berusaha membuat segalanya lebih baik dari sekarang.Dewasa berarti menerima. Menerima banyak hal yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan. Menerima kenyataan yang berbicara lain dengan keinginan. Menerima bahwa manusia hanya bisa berencana, dan Tuhan yang berkehendak.

Dari salah satu artikel yang saya dapat dari salah seorang teman (maaf saya tidak tahu sumber aslinya, dokumen.doc terkopi di laptop saya yang berjudul “Bisakah Kedewasaan Dibentuk?”, sang penulis membagi kedewasaan menjadi 3 bagian
1.Kebebasan
2.Kesederhanaan
3. Tanggung Jawab

Garis besarnya pada artikel tersebut bisa disimpulkan bahwa dewasa itu adalah suatu kebebasan dalam bertindak dan mengambil keputusan, bebas dalam bersikap, tidak berlebihan dan tetap bertanggung jawab atas kebebasan yang dimiliki itu. Saya sendiri cenderung memandang kedewasaan itu sebagai tanggung jawab, sabar, dan sikap menerima atas kenyataan yang ada. Namun menerima bukanlah pasif dan pasrah saja terhadap kenyataan.

Pada artikel yang sama disebutkan, “Kedewasaan memang bukan sifat, ia cenderung berbentuk sebagai sikap, atau perilaku tindakan mahluk berwujud manusia.” Apabila kedewasaan berbentuk sebagai sikap, maka saya rasa ia bisa dibentuk melalui proses yang lama dan tentu saja terkadang menyakitkan. Kedewasaan bisa dicapai setelah melalui berbagai ujian kehidupan yang berat. Dan di dalam ujian itulah kita memilih, akankah kita bersikap dewasa atau tetap bersikap kekanak-kanakan?”
Jadi, saya rasa slogan iklan itu benar. Tinggal yang mana pilihan kita?
1. Ehm...
dewasa itu bisa dirasain diri sendiri ato orang lain yg ngeliat?
2. klo berbicara ttg kedewasaan itu makna kata yg luas ya ka’?!tapi pernah dengar dari seorang sahabat….Allah akan mempertemukan kita dengan jodoh kita jika kita sudah dinilai dewasa menurut penilaian Allah tentunya…jadi?????gimana???kapan bentuk panitia?!
3. kalo menurut saya dewasa ga’ bisa cuma bisa dilihat dari luar aja(ato secara fisikly), mungkin ada yang bersikap like a child , tapi sesungguhnya dia punya sisi kedewasaan , ga’ perlu bersikap seolah olah kita dewasa tetapi pikiran masih anak anak, intinnya be your self and biarkan kedewasaan itu dtang dengan sendirinnya dan ga’ perlu memaksakan diri untuk menjadi dewasa , that’s the point.

Jumat, 24 Juni 2011

Semua Tentang Mu ...

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 20.28 0 komentar

semua tentangmu selalu membekas di hati ini
cerita cinta kita berdua akan selalu
semua kenangan tak mungkin bisa (ku lupakan ku hilangkan)
takkan mungkin ku biarkan cinta kita berakhir

ku tak rela, ku tak ingin kau lepaskan semua
ikatan tali cinta yang tlah kita buat selama ini

aku di sini selalu menanti
ku takkan letih menunggumu
aku di sini (aku di sini) selalu menanti (selalu menanti)
ku takkan letih menunggumu (menunggumu)

- Vierra -

Sabtu, 18 Juni 2011

Sikap kita menentukan segalanya ...

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 05.54 0 komentar
Beberapa minggu yang lalu, saat aku melakukan kontrol gigi rutin ke RSAL, aku sedang menanti di ruang tunggu rumah sakit . ketika aku membaca sebuah puisi yang dimuat di sebuah majalah.
aku percaya, bahwa secara keseluruhan puisi ini merangkum peranan kita dalam mencapai masa depan yang sukses.

SIKAP
Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan
Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.
Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.
Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi
Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.
Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

Akhirnya: Seluruh pilihan terletak di tangan Anda, tidak ada JIKA atau TETAPI. Andalah pengemudinya. Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…!semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

Jumat, 03 Juni 2011

Kalau Rasa Ingin Tahu itu TAK ADA ?

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 05.41 0 komentar

Segala derap hati ungkapan perasaan yang diciptakan Tuhan untuk makhluknya pasti ada alasan dan tujuannya. Begitu pula dengan rasa ingin tahu.

Saat aku masih duduk di sekolah dasar, guruku memberi tahu bahwa rasa ingin tahu akan membuat kalian memiliki jiwa inovatif ekspresif dan cenderung kreatif. Namun sekarang, rasa ingin tahu itu malah membuat ku tersiksa.

Mengetahui apa yang sebenarnya bukan hal patut untuk aku ketahui malah membuat hatiku semakin tak karuan. Kadang rasa itu membuat dunia menjadi lebih baik, dan terkadang membuat dunia itu seperti kebalikannya, buruk.

Yap, aku merasakan hal yang buruk setelah rasa ingin tahu itu hinggap dalam pikiran ku. Aku tahu kalau aku salah telah melakukan hal itu. Namun kembali lagi, rasa itu yang menuntun aku agar melakukan hal itu. 

Sekarang aku hanya bisa tersenyum kecut melihat tulisan-tulisan itu. Dengan bibir kanan sedikit tertarik keatas dan mata terkesan sinis, aku membaca semua itu. Kesimpulan yang aku dapat adalah sebuah kata yang cukup yaaaahh, membuatku jengkel mangkel amburadul laaahh..

Endel kau ! sumpah, didepan terkesan manis penuh perhatian, tapi dibelakang , tenyata sama saja !
Tak ada bedanya dengan semua makhluk di bumi ini.

Kalau saja Tuhan tidak menciptakan rasa ingin tahu, aku tak akan seperti ini !!!

Rabu, 01 Juni 2011

Melipat Baju

Diposting oleh Retno Triwilujeng di 20.09 0 komentar

Ini malam kamis. Aku pulang dengan perasaan kosong. Mata mengantuk, karena seharian Aku di luar. Masuk ke kamar dan bingung hendak melakukan apa. Menyalakan radio. Mengganti baju.

Kemudian terpikir untuk membuat teh. Siapa tahu setelah ini perasaanku lebih tenang. Melirik keranjang baju, lalu melihat beberapa tumpukan baju yang sedikit berantakan. Kaos yang tercampur dengan celana yang belum sempat di setrika.

Kemudian aku mulai melipat baju.

Aku suka pekerjaan melipat baju. Entah kenapa melipat mereka dengan setengah rapih. Mengaturnya kembali. Melihat warna-warna mereka. Membuat aku sedikit tenang. Sejujurnya tidak sepenuh juga begitu.

Aku ini baru ditinggal. Belum juga 2 hari aku ditinggal. Eh sudah kangen. Lalu aku ini sadar, kalau aku sungguh kepayahan meladeni rasa kangen. Mungkin ada kelenjar kangen berlebih di tubuhku.

Ada yang mau. Aku bagi deh. Supaya tidak berlebihan.

Terus-terusan melipat baju. Melihat warna-warna mereka di lemariku. Belum tenang juga. Aku berpikir, kalau saja rasa kangen itu dapat dilipat. Aku akan melipatnya dan meletakkannya di laci bagian bawah bersama kaos-kaos yang sudah usang.

Atau menumpuknya di bagian pakaian dalam bersama bra dan celana dalam yang kebanyakan berwarna hitam.

Kangen itu terkadang berwarna hitam.
 

A Piece of Life Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review